Berita Golkar – Ketua DPD II Partai Golkar Pinrang Usman Marham berharap agar Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Golkar Sulsel melahirkan kepemimpinan yang kuat dan definitif di tubuh Partai Golkar Sulsel.
Usman Marham menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar pergantian figur, tetapi penentuan arah strategis partai untuk merebut kembali dominasi politik di Sulsel pada Pemilu 2029 nantinya.
Usman menilai Sulsel memiliki posisi yang terlalu penting. Selain dikenal sebagai lumbung suara tradisional, Sulsel juga merupakan pintu gerbang kawasan Indonesia Timur. Wilayah yang kini menjadi perhatian nasional, termasuk dalam konsolidasi kekuatan politik.
“Sulsel ini bukan daerah biasa. Ini pintu masuk Indonesia Timur. Kalau Golkar ingin kembali berjaya secara nasional, maka Sulsel harus dipimpin oleh ketua yang kuat, definitif, dan mampu bekerja penuh,” ujar Usman pada Senin (4/5/2026), dikutip dari HarianFajar.
Usman mengingatkan bahwa kekalahan pada Pileg 2024 menjadi alarm serius bagi partai berlambang beringin ini.
Untuk pertama kalinya, Golkar kehilangan dominasi di Sulsel, hanya meraih 14 kursi DPRD dan gagal mempertahankan kursi Ketua DPRD Sulsel.
Kondisi itu, kata Usman, tidak bisa dilepaskan dari melemahnya konsolidasi internal dan kurang optimalnya orkestrasi mesin partai di lapangan.
Usman juga menekankan pentingnya perhatian khusus dari DPP, terlebih di bawah kepemimpinan Ketua Umum Bahlil Lahadalia yang juga berasal dari Indonesia Timur.
Menurutnya, faktor kedekatan geografis dan sosiologis ini seharusnya menjadi keuntungan strategis untuk membangun kembali basis kekuatan Golkar di wilayah tersebut.
“Ketum berasal dari Indonesia Timur, ini momentum. Sulsel bisa jadi jangkar utama untuk mengonsolidasikan kekuatan di kawasan timur,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa momentum tersebut hanya akan efektif jika di tingkat provinsi terdapat kepemimpinan yang solid, permanen, dan memiliki legitimasi kuat di internal partai.
Usman menilai sosok Ketua DPD I Golkar Sulsel ke depan tidak cukup hanya populer atau memiliki sumber daya politik. Lebih dari itu, dibutuhkan figur dengan kapasitas kepemimpinan yang teruji. Usman menegaskan, Musda XI harus menjadi titik balik, bukan sekadar agenda rutin organisasi.
“Kalau salah pilih lagi, kita akan kehilangan momentum. Tapi kalau tepat, Sulsel bisa kembali jadi lumbung suara Golkar di 2029,” tegasnya.
Usman menuturkan bahwa dengan waktu yang tersisa sekitar tiga tahun menuju kontestasi berikutnya, keputusan dalam Musda XI akan menjadi fondasi utama bagi masa depan Golkar Sulsel. “Dan mungkin juga di Indonesia Timur secara keseluruhan,” tuturnya. []



