DPP, Slipi  

Viral Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng”, Cermin Tipisnya Batas Cinta dan Benci Netizen

Berita Golkar – Belakangan ini, fenomena unik melintas di linimasa media sosial kita. Lagu jenaka berjudul “MBG Mas Bahlil Ganteng” mendadak viral, terutama di TikTok.

Lagu tersebut ramai diperbincangkan setelah akun TikTok @panggilakubambang mengunggah video reaksinya saat mendengarkan lagu itu (Jatim Network, 23/05/2025). Dengan lebih dari 3,6 juta likes dan puluhan ribu komentar, lagu tersebut berhasil menarik perhatian publik digital.

Lagu itu dibuat oleh akun TikTok @vokaliz_netizen yang dikenal kreatif mengubah komentar netizen menjadi lagu dengan aransemen yang unik (Solo Balapan, 25/05/2026).

Liriknya sederhana, jenaka, dan mudah diingat. Musiknya pun terasa ringan dan mudah melekat di telinga sehingga memancing gelombang komentar positif dari pengguna media sosial.

Menariknya, antusiasme publik ini justru diarahkan kepada sosok yang sebelumnya cukup sering menjadi sasaran kritik dan sinisme netizen terkait berbagai isu kebijakan hingga kontroversi publik (Kompas, 26/08/2025).

Sosok yang dahulu dihujat, kini justru menerima respons yang lebih hangat dari pengguna media sosial.

Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Di panggung yang berbeda, publik digital juga pernah menyaksikan perubahan emosi yang bergerak sangat cepat terhadap figur publik.

Mario Teguh, misalnya, pernah diposisikan sebagai simbol motivasi dan kebijaksanaan melalui berbagai petuah moralnya.

Namun, citra tersebut mengalami perubahan setelah namanya dikaitkan dengan berbagai kontroversi dan memunculkan gelombang cancel culture dari masyarakat (Kompas, 17/07/2023).

Hal serupa juga dialami sejumlah figur publik lain seperti Inara Rusli dan Jule yang sempat memperoleh simpati besar dari netizen, tetapi kemudian justru menerima kritik massal ketika persoalan rumah tangga mereka ramai diperbincangkan publik (Tribun News, 01/03/2026). Dukungan dan kecaman datang silih berganti dalam waktu yang sangat cepat.

Gejala ini bahkan melampaui batas negara. Di industri hiburan Korea Selatan, aktor Byeon Woo Seok dan solois IU yang selama bertahun-tahun dipuja sebagai figur nyaris tanpa cela, mendadak menjadi sasaran kritik akibat kontroversi akurasi sejarah dalam proyek drama terbaru mereka, Perfect Crown (CNN Indonesia, 19/05/2026).

Sebaliknya, Cha Eun-woo yang sebelumnya sempat terseret polemik administrasi pajak dan menerima kritik luas, perlahan kembali memperoleh simpati publik setelah drama terbarunya The Wonderfools sukses secara global di Netflix (Cianjurpedia, 21/05/2026).

Pertanyaannya, mengapa netizen begitu mudah mengubah sikap mereka? Mengapa batas antara cinta dan benci di media sosial terasa begitu tipis dan cair?

Cinta Jadi Benci

Pergeseran emosi kolektif ini bukan sekadar ledakan perasaan spontan. Fenomena tersebut berkaitan erat dengan relasi parasosial yang tumbuh di ruang digital.

Relasi parasosial merupakan hubungan emosional satu arah ketika pengguna media merasa mengenal dekat figur publik yang mereka lihat di layar, meskipun tidak memiliki hubungan personal secara nyata. Di media sosial, hubungan semacam ini tumbuh semakin intens.

Publik merasa dekat dengan selebritas, politisi, kreator konten, bahkan tokoh yang sebenarnya tidak mereka kenal secara langsung. Kedekatan semu ini kemudian melahirkan ekspektasi moral yang tinggi. Figur publik tidak lagi dipandang sebagai manusia biasa, tetapi ditempatkan sebagai simbol ideal yang harus selalu benar, sopan, dan tanpa cela.

Akibatnya, ketika muncul kesalahan, kontroversi, atau masa lalu yang dianggap problematis, publik merasa kecewa seolah dikhianati oleh orang dekat mereka sendiri. Reaksi emosional ini kemudian berkembang menjadi hujatan kolektif yang berlangsung masif.

Effendi dan Febriana (2023) menjelaskan bahwa cancel culture terhadap figur publik sering diposisikan sebagai bentuk kontrol sosial. Publik merasa memiliki legitimasi moral untuk menghukum seseorang karena figur publik dianggap memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat.

Dalam konteks media sosial, penghukuman tersebut sering kali berlangsung sangat cepat tanpa ruang refleksi yang cukup. Situasi ini membuat sisi kemanusiaan figur publik perlahan menghilang di mata netizen. Apresiasi yang sebelumnya diberikan dengan hangat dapat berubah menjadi penghakiman destruktif hanya dalam hitungan hari, bahkan jam.

Di sisi lain, perubahan dari kebencian menjadi dukungan juga tidak terjadi secara alami semata. Dinamika ini dipengaruhi oleh psikologi kelompok dan cara kerja algoritma media sosial yang mendorong bandwagon effect (efek ikut-ikutan).

Dalam tulisannya tentang Bandwagon Effect (2015), Schmitt-Beck menjelaskan bahwa opini publik cenderung bergerak mengikuti apa yang dianggap sebagai suara mayoritas. Di ruang digital, banyak orang merasa lebih aman ketika berada di arus yang sama dengan mayoritas pengguna lain.

Berbeda pendapat di media sosial sering kali berarti siap menghadapi serangan komentar, pengucilan digital, atau bahkan perundungan massal. Karena itu, opini publik mudah bergerak secara serempak mengikuti tren emosi yang sedang dominan.

Ketika figur publik yang sebelumnya dihujat mulai tampil lebih membumi, ikut bercanda dengan kritik, atau menunjukkan sisi rapuh mereka, suasana publik perlahan berubah. Netizen merasa kritik mereka akhirnya mendapat respons dari figur tersebut. Ketegangan emosional pun mereda.

Dari situ, kebencian perlahan berubah menjadi pemakluman, bahkan dukungan baru.

Pada akhirnya, cinta dan benci di media sosial sering kali bergerak sebagai komoditas emosi sesaat. Perasaan publik tidak selalu dibangun dari penilaian yang utuh terhadap seseorang, melainkan dari tren, algoritma, dan dorongan psikologi massa yang terus bergerak cepat di ruang digital.

Mengembalikan Humanisme Digital

Pada akhirnya, media sosial telah mengubah emosi publik menjadi sesuatu yang bergerak sangat cepat. Hari ini seseorang bisa dipuja setinggi langit, esok harinya dihujat beramai-ramai, lalu beberapa waktu kemudian kembali dirayakan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Pergeseran ini menunjukkan bahwa relasi digital kita sering kali dibangun bukan atas pemahaman yang utuh terhadap seseorang, melainkan atas potongan narasi, tren sesaat, dan dorongan emosi kolektif.

Fenomena viralnya lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” memperlihatkan bagaimana figur yang sebelumnya menjadi sasaran kritik dapat berubah menjadi bagian dari dinamika hiburan digital yang justru memunculkan simpati baru.

Di sisi lain, pengalaman sejumlah figur publik yang terkena cancel culture menunjukkan betapa cepatnya publik menc

abut rasa kagum ketika ekspektasi mereka tidak terpenuhi. Semua berlangsung dalam siklus yang nyaris tanpa jeda. Di tengah arus algoritma yang terus mendorong sensasi dan keterlibatan emosional, masyarakat digital perlahan terbiasa bereaksi sebelum memahami. Kita mudah ikut marah karena linimasa sedang marah, dan mudah ikut memuji karena mayoritas sedang tertawa bersama.

Padahal, di balik layar media sosial, figur publik tetaplah manusia biasa yang memiliki kekeliruan, kelemahan, dan ruang untuk berubah. Oleh karena itu, yang perlu dibangun hari ini bukan sekadar budaya kritik, melainkan juga kesadaran untuk menghadirkan kembali humanisme digital.

Kritik tetap penting sebagai bentuk kontrol sosial, tetapi kritik tidak harus berubah menjadi perundungan massal yang menghapus sisi kemanusiaan seseorang. Begitu pula dukungan publik, seharusnya tidak menjelma menjadi pemujaan berlebihan yang menempatkan figur publik pada standar kesempurnaan yang mustahil dicapai.

Jika tidak, media sosial hanya akan menjadi ruang yang terus memproduksi siklus cinta dan benci tanpa akhir. Seseorang akan terus diangkat, dijatuhkan, lalu diangkat kembali demi memenuhi kebutuhan hiburan kolektif semata. Di titik itulah, empati menjadi semakin langka, sementara keramaian digital terasa makin bising tetapi kehilangan kedalaman makna. [Kompas]

Oleh: Ranny Rastati, Peneliti BRIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *