Berita Golkar – Festival Musik Patrol yang digelar pada malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah di Kota Kediri berlangsung semarak. Agenda yang diinisiasi Pemkot Kediri ini menjadi upaya menjaga tradisi takbiran keliling dengan iringan musik tradisional.
Walikota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan malam takbiran merupakan momen spesial bagi umat Islam usai menuntaskan ibadah puasa Ramadan.
“Ini wujud syukur setelah menjalani puasa selama 30 hari. Semoga kita meraih kemenangan dan seluruh amal ibadah diterima Allah SWT,” kata Vinanda kepada detikJatim, Jumat (20/3/2026).
Ia menegaskan pentingnya mempertahankan tradisi takbiran bernuansa musik tradisional seperti kentongan dan beduk yang kini mulai jarang ditemui di sejumlah daerah. Menurutnya, festival ini juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya Kota Kediri.
“Di Kediri, tradisi ini harus terus dijaga. Takbiran keliling dengan musik tradisional bisa menjadi daya tarik, terutama bagi para pemudik,” imbuhnya.
Festival tersebut sekaligus menjadi ruang kreativitas bagi generasi muda. Peserta menampilkan beragam konsep, mulai dari kostum adat hingga dekorasi lampu yang atraktif.
Vinanda mengapresiasi tingginya partisipasi peserta, termasuk dari kalangan pelajar SMA, SMK, dan MA. Tahun ini, ada tambahan 16 grup pelajar yang ikut meramaikan, bergabung dengan puluhan peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Ia berharap ke depan festival ini bisa digelar lebih besar dengan jumlah peserta yang terus bertambah, sekaligus menjadi hiburan yang mempererat kebersamaan dan semangat gotong royong warga. “Harapannya, kegiatan ini terus berkembang dan menjadi agenda tahunan yang semakin meriah di Kota Kediri,” tutupnya.
Sementara itu, salah satu peserta dari Kelurahan Ngadirejo, Heru Sugiarto, mengaku persiapan dilakukan dalam waktu terbatas setelah menerima undangan panitia.
“Persiapan sekitar enam hari, karena undangan baru kami terima sekitar sepuluh hari sebelumnya. Kami mengangkat tema Ngadirejo Sejahtera dalam rangka Sabtu Syawal, semoga membawa berkah,” ujarnya.
Dalam penampilannya, tim tersebut melibatkan sekitar 15 pemain musik dan sejumlah pendukung. Mayoritas anggota berasal dari karang taruna yang bekerja secara gotong royong selama proses persiapan.
Mereka memadukan berbagai alat musik tradisional seperti gamelan, kentongan, dan hadroh. Meski sebagian anggota belum terbiasa, hal itu justru menjadi tantangan tersendiri. “Kami harus banyak belajar untuk menyatukan irama. Konsepnya menggabungkan gamelan dengan hadroh dan kentongan,” tandasnya. []



