Berita Golkar – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Hanan A. Rozak mengapresiasi kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar 129,19 atau meningkat 1,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Hanan menilai kenaikan NTP itu sebagai sinyal positif bagi kondisi ekonomi dan daya beli petani. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 September 2026, kenaikan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 1,14 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,09 persen.
“Kenaikan NTP menjadi kabar baik bagi petani. Ini menunjukkan bahwa secara relatif harga yang diterima petani mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan harga yang harus mereka bayar. Namun, yang harus kita pastikan adalah tren positif ini tak berhenti di angka statistik, tapi benar-benar meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di lapangan,” ujar Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Lampung ini pada Rabu (2/9/2026) kepada Golkarpedia.
Menurut Hanan, pemerintah perlu menjadikan kenaikan NTP sebagai momentum untuk memperkuat kebijakan perlindungan dan pemberdayaan petani. Kenaikan harga komoditas di tingkat petani harus diikuti dengan pengendalian biaya produksi, terutama harga pupuk, benih, pestisida, pakan, energi, serta biaya transportasi dan distribusi.
“Jangan sampai harga hasil produksi petani naik, tapi biaya produksi juga ikut meningkat sehingga keuntungan yang diterima petani tetap kecil. Karena itu, pemerintah harus menjaga keseimbangan antara harga jual komoditas dengan biaya produksi,” tegas Bupati Tulang Bawang periode 2012-2017 ini.
Hanan A Rozak juga menyoroti pentingnya kepastian pasar bagi hasil produksi pertanian. Menurutnya, petani butuh jaminan bahwa peningkatan produksi akan diikuti dengan pasar yang mampu menyerap hasil panen dengan harga yang layak.
“Petani harus mendapatkan kepastian harga dan pasar. Negara harus hadir untuk memastikan rantai tata niaga tidak terlalu panjang dan posisi tawar petani semakin kuat. Jangan sampai petani hanya menjadi pihak yang menerima harga, sementara keuntungan terbesar justru dinikmati mata rantai perdagangan,” pungkasnya.



