Berita Golkar – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adela Kanasya Adies menyatakan permasalahan literasi masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan yang serius.
Hasil skor PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022 yang diselenggarakan OECD (Organization for Economic Co-operation and Developmen) menunjukkan bahwa skor membaca siswa Indonesia usia 15 tahun hanya mencapai 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 476 poin.
Adapun data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional tahun 2024 sebesar 73,52, meningkat dari tahun 2023 sebesar 69,42, melampaui dari target 71,4. Adapun Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) 2024 mencapai 72,44.
Lebih lanjut Adela menyatakan bahwa, kemampuan literasi bagi generasi muda sangat penting karena bagian dari pondasi peradaban yang maju. Literasi berkaitan dengan daya saing anak bangsa, termasuk kemampuan berpikir kritis terhadap suatu permasalahan, mengevaluasi dan kemampunan mengelola informasi.
Keterangan tersebut disampaikan Adela kepada Golkarpedia usai Kunjungan Kerja spesifik Bidang Perpustakaan/Literasi Komisi X DPR RI di Jawa Timur pada hari Kamis (20/8/2026).
“Untuk dapat meningkatkan literasi generasi muda, diperlukan berbagai dukungan dari berbagai pihak, baik pusat, daerah sampai dengan desa/kelurahan dan masyarakat. Selain itu dukungan penganggaran, ketersediaan SDM Pengelola perpustakaan, ketersediaan dan keterjangkauan buku-buku penopang literasi, pengembangan komunitas baca masyarakat, serta transformasi perpustakaan penting dilakukan.”
Jika dilihat dari aspek ketersediaan sarana dan prasarana, hingga tahun 2024 tercatat sekitar 219.415 unit perpustakaan di Indonesia. Dengan jumlah tersebut distribusi belum merata di seluruh Indoensia. Terdapat sekitar 44,49% berada di Pulau Jawa, sedangkan di Papua hanya sekitar 1,21% dan Maluku sekitar 1,78%.
Ketimpangan distributif tersebut menunjukkan bahwa peningkatan literasi nasional juga harus menyasar dan merata ke seluruh perpustakaan daerah, desa/kelurahan, komunitas, serta wilayah 3T.
Dalam pengembangan literasi di Indonesia, diperlukan dukungan penganggaran yang berkaitan dengan ketersediaan dukungan anggaran yang memadai, oleh karena itu alokasi anggaran untuk pengembangan literasi di Indonesia harus sesuai dengan kebutuhan.
“Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas literasi dan kualitas SDM generasi muda, diperlukan dukungan anggaran yang memadai bagi Perpustakaan Nasional. Komisi X DPR RI terus berkomitmen mendorong dan berupaya memenuhi kebutuhan anggaran yang memadai tersebut,” tutur legislator perempuan asal dapil Jatim I ini.
Adela menyatakan bahwa, Permasalahan lain adalah berkaitan dengan ketersediaan dan kompetensi SDM perpustakaan. Perpusnas mencatat hingga tahun 2026 sebanyak 5.565 pustakawan telah dinyatakan kompeten melalui sertifikasi, namun kebutuhan penguatan profesionalisme tenaga perpustakaan tetap menjadi agenda penting mengingat luasnya jaringan perpustakaan nasional dan beragamnya karakteristik wilayah Indonesia.
“Dalam rangka meningkatkan literasi bagi generasi muda di Indonesia, diperlukan upaya yang sistematis dan terencana, yaitu selain aspek pengembangan budaya membaca dilakukan melalui Perpustakaan, juga diperlukan pengembagan literasi dengan memasukan agenda literasi didalam kurikulum pembelajara di sekolah-sekolah dan kampus,” pungkasnya. []



