Berita Golkar – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji meminta Tim Pendamping Keluarga (TPK) turut aktif mengawasi kebutuhan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B).
Dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada Selasa, Wihaji mengemukakan pihaknya terus memastikan insentif Rp1.000 per ompreng yang diantarkan oleh TPK ke sasaran 3B telah disalurkan secara optimal dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membuat menu yang sesuai dengan kebutuhan gizi dan keamanan pangan.
“Saya sudah diskusi dengan kepala BGN juga, tentu nanti akan ada kebijakan-kebijakan yang bisa menyesuaikan karena tentu kebutuhannya ibu khususnya yang balita, akan beda dengan yang anak sekolah, khususnya barangkali misalnya yang 2 tahun, tentu beda, nanti kita lagi carikan jalan keluar, tapi diusahakan nanti ada hal-hal yang mesti kita sesuaikan dengan kebutuhan MBG 3B,” ujar dia, dikutip dari AntaraNews.
Ia mengemukakan, tim TPK yang terdiri dari bidan, tenaga kesehatan, dan kader PKK terus diberdayakan dan dilibatkan aktif untuk ikut mengawal Program MBG 3B.
“Tentu akan kita kawal, jadi ibu-ibu inilah yang akan mengawal program kita tentang MBG 3B dan program-program lain yang berkenaan dengan stunting, karena ini perintah dari Bapak Presiden,” katanya.
Wihaji juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menyukseskan MBG 3B, utamanya dalam rangka mengentaskan stunting di Indonesia.
Ia juga menambahkan, Kemendukbangga/BKKBN telah membuat standar operasional prosedur (SOP) tentang pencegahan stunting bagi TPK yang membagikan Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B.
“Kita sudah ada panduan bagi TPK-TPK, kita bikin SOP bahwa TPK mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, balita, remaja sampai lansia, termasuk khususnya yang seribu hari pertama kehidupan (usia 0-2 tahun), kita pastikan mereka ada panduan yang memungkinkan potensi terjadinya stunting,” katanya.
Ia menjelaskan dalam SOP baru tersebut sudah diputuskan siapa TPK yang mendampingi sasaran 3B sesuai dengan data sehingga distribusinya tepat sasaran.
“Sehingga nanti jelas dari beliau semua itu (TPK) nanti kita ada datanya, kamu mendampingi berapa, misalnya 10 keluarga, 20 keluarga, sehingga nanti ke depan lebih terstruktur dalam kinerja kita,” ujar Wihaji.
Mendukbangga juga memastikan melalui SOP tersebut dipatuhi dengan benar, sehingga apabila di kemudian hari ditemukan ada masalah, maka penanganannya dilakukan dengan cepat. []



