Berita Golkar – Mengamalkan Pancasila bukan sekadar menghafal lima sila, melainkan membuktikannya melalui sikap terhadap sesama.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Juliyatmono, menekankan pentingnya saling menghormati, bersedia mendengarkan pendapat orang lain, dan mengutamakan musyawarah dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Juliyatmono, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman dalam menghadapi perbedaan, bukan berhenti sebagai slogan atau materi dalam kegiatan kebangsaan.
Pesan itu disampaikan saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Karanganyar. Dalam kegiatan tersebut, mantan Bupati Karanganyar itu menyoroti pentingnya kesediaan setiap orang untuk mendengar dan mempertimbangkan pandangan orang lain.
Ia mengingatkan bahwa sikap merasa paling benar dapat menghambat musyawarah dan menyulitkan upaya mencari penyelesaian bersama. “Kita harus mau mendengar dengan baik untuk saling bermusyawarah. Jangan masing-masing merasa paling jago atau paling benar,” kata Juliyatmono, Sabtu (17/10/2026), dikutip dari Viva.
Ia berharap masyarakat membiasakan dialog terbuka ketika menghadapi perbedaan pendapat. Musyawarah, menurut dia, perlu dijalankan agar setiap persoalan dapat dibicarakan dengan baik dan keputusan yang dihasilkan turut mempertimbangkan rasa keadilan.
Juliyatmono juga mengingatkan bahwa tanggung jawab membangun bangsa tidak hanya berada di tangan pejabat negara. Setiap warga memiliki peran dan kontribusi sesuai kapasitasnya masing-masing.
Karena itu, hubungan antara pemerintah dan masyarakat maupun antarsesama warga perlu dibangun dengan semangat saling mendukung demi kesejahteraan bersama.
Selain musyawarah, Juliyatmono menekankan bahwa pengamalan Pancasila juga harus terlihat melalui perilaku yang mencerminkan nilai Ketuhanan dan kemanusiaan. Ia mengajak masyarakat membiasakan sikap saling menyayangi, melindungi, mengayomi, dan menjaga satu sama lain. Menurut dia, nilai-nilai tersebut harus dijalankan dengan kesadaran, bukan hanya disampaikan dalam ucapan.
“Nilai-nilai Ketuhanan bisa diimplementasikan dengan baik jika kita mau meneladani sifat-sifat Tuhan dalam tindakan nyata. Sifat saling menyayangi, melindungi, mengayomi, dan saling menjaga harus kita jalankan dengan penuh kesadaran,” ujarnya.
Ia mengaitkan sikap tersebut dengan semangat rahmatan lil alamin, yakni menghadirkan kebaikan dan kedamaian bagi seluruh alam. Bagi Juliyatmono, menjaga kerukunan membutuhkan tindakan nyata dari setiap orang. Menghargai perbedaan dan memperlakukan sesama secara baik merupakan bagian dari upaya merawat persatuan di tengah masyarakat.
Juliyatmono turut mengingatkan masyarakat agar lebih cermat menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Ia meminta warga tidak mudah terpancing konten provokatif yang dapat memicu kesalahpahaman maupun perpecahan.
“Pilah-pilah informasi dengan hati nurani. Mana yang cuma konten provokatif, dan mana berita yang benar serta bertanggung jawab,” katanya.
Ia mengajak masyarakat memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Sikap kritis diperlukan agar media sosial tidak menjadi ruang yang memperkeruh hubungan sosial. Menurut dia, suasana masyarakat yang aman dan damai akan membantu warga bekerja dengan tenang serta berkontribusi dalam pembangunan daerah dan bangsa.
Pada kesempatan yang sama, Juliyatmono juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia mengajak masyarakat mendoakan agar Presiden diberikan kesehatan, kekuatan, dan kesuksesan dalam memimpin Indonesia.
Ia juga berharap masyarakat memberikan kepercayaan kepada Prabowo agar dapat menjalankan tugasnya secara maksimal. []



