DPP, Slipi  

Celios Soal Bahlil Lahadalia: Jebakan Imajinasi dan Data

Berita Golkar – Hasil Survey Celios yang baru saja dirilis secara keseluruhan menampilkan nilai rendah penyelenggaraan pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming yakni 4,7 dari 10. Angka yang sangat mengenaskan untuk Pemerintahan yang sedang berjuang menstabilkan kondisi ekonomi nasional akibat perang teluk yang mempengaruhi geoekonomi global.

Dengan metode ilmiah yang diterapkan pada survey ini, tentu para pembaca akan paham bahwa penelitian ini benar-benar murni scientific dan bebas dari intervensi siapa pun. Namun demikian ada celah dari metode ini yang menimbulkan pertanyaan yakni kecenderungan menangkap opini mengambang dan tidak meninjau prestasi atau capaian-capaian pemerintah dan para menterinya.

Sebagai misal, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia diberi poin -159 sebagai Menteri dengan kinerja terburuk dan harus direshuffle. Poin itu tentu menimbulkan pertanyaan. Apa benar demikian? Bagaimana bentuk pertanyaan yang diajukan Celios ke responden? Lalu klaim 129 ahli yang dimintai pendapat, aspek apa saja yang dipergunakan dalam memberi penilaian terhadap pemerintah khususnya Menteri ESDM?

Secara nasional publik memonitor perkembangan energi akibat perang teluk. Pada setiap kesempatan Presiden Prabowo selalu menekankan stabilitas harga dan ketersediaan energi dan didukung oleh Menteri ESDM yang sigap menerjemahkan perintah Presiden. Alhasil, masyarakat tidak gaduh dengan kondisi energi nasional. Meski ada antrian panjang di beberapa tempat, tapi itu dapat diatasi tanpa keributan. Karena masyarakat maklum bahwa ketersediaan energi khususnya BBM dipengaruhi oleh kondisi energi global.

Selain itu, selama menjabat sebagai Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mencatat prestasi penting antara lain peningkatan realisasi investasi sektor ESDM yang mencapai USD 13,9 miliar atau tertinggi dalam lima tahun terakhir. Selanjutnya, di bawah kepemimpinannya, Kementerian ESDM berhasil meningkatkan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan merealisasikan percepatan program hilirisasi minerba dan evaluasi regulasi untuk menggenjot lifting minyak bumi nasional.

Diantara prestasi tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengadvokasi partisipasi rakyat secara luas dalam mengelola sumber daya alam termasuk minyak dan tambang mineral dengan membuka peluang pengusaha kecil menengah atau UMKM untuk mengambil bagian. Bahlil Lahadalia senantiasa menekankan bahwa eksploitasi sumber daya alam harus menguntungkan masyarakat bukan saja korporasi besar.

Dalam karirnya sebagai Menteri ESDM Bahlil Lahadalia konsisten memprioritaskan harga energi terjangkau untuk publik dan mendorong inisiatif ekspansi energi di wilayah terpencil dan mengajak pengusaha lokal untuk terlibat dalam manajemen sumber daya alam di daerahnya masing-masing.

Pertanyaannya, apakah Celios memiliki pengetahuan yang cukup tentang prestasi menteri-menteri yang disurvey secara individual? Atau Celios hanya secara kolektif mengkategorikan Menteri menggunakan indikator subyektif yang menyenangkan pihak tertentu?

Saya khawatir dengan cara seperti itu Celios mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai Lembaga survey yang mulai popular di kalangan publik yang haus pendapat netral dan bernas. []

Oleh: Notrida Mandica, PhD, Sekretaris Eksekutif Balitbang DPP Partai Golkar