Adela Kanasya Adies Dorong Kampus Adaptif terhadap Perubahan Dunia Kerja di Era AI

Berita Golkar – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), otomatisasi, ekonomi digital, dan ekonomi hijau mulai mengubah kebutuhan dunia kerja.

Perguruan tinggi pun dituntut menyesuaikan kurikulum dan metode pembelajaran agar lulusannya tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga memiliki keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Adela Kanasya Adies menilai tantangan pendidikan tinggi saat ini bukan sekadar memperluas akses masyarakat untuk kuliah.

Sebagai catatan, Komisi X DPR RI membidangi sektor pendidikan, olahraga, sains, teknologi, kebudayaan, riset, dan inovasi. Perguruan tinggi juga harus memastikan mahasiswa memiliki kompetensi yang relevan dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri.

“Dunia yang akan dihadapi mahasiswa hari ini berubah jauh lebih cepat daripada kurikulum yang kita ajarkan kepada mereka. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak anak Indonesia yang bisa kuliah, tetapi setelah mereka kuliah, apakah mereka siap menghadapi dunia yang baru?” kata Adela dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026), dikutip dari Tribunnews.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Adela menjadi pembicara utama dalam Seminar Pendidikan Tinggi bertema “Sinergi Kebijakan Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi dalam Mewujudkan Generasi Unggul, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”.

Menurut Adela, perubahan teknologi dan struktur ekonomi mengharuskan perguruan tinggi meninjau kembali relevansi kurikulum serta pendekatan pembelajaran.

Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, membangun jejaring, dan menjaga integritas.

AI Bukan Sekadar Ancaman bagi Lulusan

Adela mengingatkan mahasiswa agar tidak memandang AI semata-mata sebagai ancaman yang akan menggantikan tenaga manusia.

Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dipelajari dan dimanfaatkan secara bijak untuk meningkatkan kemampuan serta daya saing.

“AI tidak akan menggantikan semua manusia. Tetapi manusia yang mampu menggunakan AI dengan baik akan memiliki keunggulan dibandingkan manusia yang tidak mau belajar menggunakannya,” ujarnya.

Meski demikian, penguasaan teknologi tetap perlu diimbangi kemampuan berpikir mandiri, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Kompetensi teknis saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin kompleks.

Karena itu, perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk ketika teknologi dan kebutuhan industri terus berubah.

Adela juga menegaskan pentingnya memperluas akses pendidikan tinggi.

Namun, kesempatan untuk kuliah harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pembelajaran agar lulusan tidak hanya memperoleh gelar akademik, tetapi juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan setelah memasuki dunia kerja.

Kolaborasi Kampus dan Industri Perlu Diperkuat

Selain pembaruan kurikulum, Adela menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat.

Menurut legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur I yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo itu, kedua wilayah memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui sinergi pendidikan dan sektor usaha.

Surabaya memiliki ekosistem pendidikan yang kuat, sedangkan Sidoarjo ditopang basis industri serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Keterhubungan keduanya dinilai dapat membuka ruang bagi pengembangan riset dan inovasi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Kampus punya knowledge, industri punya real problem, pemerintah punya policy, dan masyarakat punya kebutuhan. Kalau empat hal ini bertemu, di situlah inovasi terjadi,” kata Adela.

Untuk mewujudkan kolaborasi tersebut, Adela mendorong pengembangan riset bersama, program magang yang berorientasi pada persoalan nyata, inkubasi perusahaan rintisan mahasiswa, kerja sama dengan UMKM, serta hilirisasi hasil penelitian.

Menurutnya, keberhasilan riset tidak semestinya hanya diukur dari jumlah publikasi atau kutipan ilmiah.

Hasil penelitian juga perlu memberikan manfaat nyata, baik melalui pemecahan masalah industri, pengembangan produk, maupun solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berperan dalam mendorong inovasi dan menjawab tantangan ekonomi maupun sosial.

Mahasiswa Didorong Menjadi Pencipta Lapangan Kerja

Adela juga mendorong mahasiswa mengembangkan pola pikir kewirausahaan. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak seharusnya hanya berorientasi menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi juga perlu memiliki kemampuan menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha (job creator).

Indonesia, kata dia, membutuhkan lebih banyak wirausahawan, peneliti, inovator, dan teknopreneur yang mampu mengembangkan gagasan menjadi solusi maupun kegiatan ekonomi produktif.

Dorongan tersebut sejalan dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.

Ketika teknologi dan tuntutan industri terus berkembang, kemampuan belajar secara berkelanjutan, berinovasi, serta membaca peluang menjadi bekal penting bagi lulusan untuk tetap relevan dan berdaya saing.

Adela menilai persiapan menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai sejak sekarang melalui pendidikan yang relevan, penelitian berkualitas, inovasi mahasiswa, serta kebijakan yang mendukung pengembangan sumber daya manusia.

“Untuk perguruan tinggi, jangan hanya mencetak lulusan. Cetaklah pemecah masalah. Dan untuk teman-teman mahasiswa, jangan hanya menunggu masa depan. Ciptakan masa depan itu mulai hari ini,” pungkasnya. []