Hetifah: AI Tak Boleh Dipakai Memalsukan Data atau Memanipulasi Penelitian

Berita Golkar – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan benar-benar telah mengubah peta dunia akademik saat ini.

Sadar akan tantangan digital yang tak terbendung ini, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, langsung mengambil langkah cepat dengan menginisiasi pelatihan khusus bagi para dosen di Samarinda.

Tak tanggung-tanggung, para dosen dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dikumpulkan dalam agenda bertajuk “Optimisasi Pemanfaatan Artificial Intelligence Untuk Meningkatkan Kualitas Penelitian dan Publikasi Ilmiah Bagi Dosen”.

Acara ini berlangsung di Ballroom Hotel Aston, Jalan Pangeran Hidayatullah, Samarinda, pada Minggu (19/7/2026) dari pukul 08.00 hingga 16.00 WITA.

Dalam acara tersebut, Hetifah menegaskan bahwa pihak kampus, khususnya para dosen, tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar melarang mahasiswa menggunakan teknologi pintar ini.

“Kita tidak bisa melarang mahasiswa menggunakan AI. Justru dosen harus membimbing mereka agar mampu memanfaatkannya dengan baik. AI dapat membuat proses riset lebih efisien dan terarah, tetapi tidak boleh menggantikan integritas akademik,” tegas Hetifah di hadapan para peserta, dikutip dari Tribunnews.

Politisi perempuan daerah pemilihan (dapil) Kaltim ini juga membeberkan sebuah fakta mengejutkan dari sejumlah studi. Ternyata, sekitar 73,3 persen sumber daya manusia (SDM) di perguruan tinggi di Indonesia diakui masih membutuhkan pelatihan lebih lanjut terkait pemanfaatan AI.

Selain masalah kompetensi SDM, tantangan berat lainnya yang membayangi adalah kesiapan infrastruktur serta mahalnya biaya implementasi teknologi di lingkungan kampus.

Meski demikian, Hetifah tetap optimistis karena mayoritas kampus di Kaltim sebenarnya sudah memiliki modal awal yang bagus, yakni sistem teknologi informasi yang cukup mapan.

Kendati AI menawarkan kemudahan yang luar biasa, srikandi DPR RI ini memberikan peringatan keras (wanti-wanti) kepada dunia akademik.

Menurutnya, kecanggihan AI bak pisau bermata dua yang wajib diimbangi dengan etika akademik yang super ketat. Jika dipakai asal-asalan tanpa verifikasi, AI bisa saja memproduksi informasi sesat dan referensi bodong alias tidak akurat.

“Sebagus apapun AI, integritas dan etika harus tetap menjadi pondasi utama. Jangan sampai AI digunakan untuk memalsukan data, memanipulasi hasil penelitian, atau mengabaikan kejujuran ilmiah,” terang Hetifah.

Ia menambahkan, ada satu hal krusial yang tidak akan pernah bisa di-copy-paste oleh robot AI mana pun di dunia.

“Yang tidak akan pernah tergantikan oleh AI adalah rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis manusia,” imbuhnya.

Acara ini turut menghadirkan para pakar di bidangnya, mulai dari Hanif Fakhrurroja (Pusat Mekatronika Cerdas BRIN), Fitriansyah (Kepala BRIDA Kaltim), hingga Guru Besar Universitas Mulawarman, Prof. Rudy Agung Nugroho.

Menariknya, Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah, sempat membocorkan proyek rahasia yang tengah digarap pihaknya bersama Organisasi Riset Informatika dan Elektronika BRIN. Mereka ternyata sedang mengembangkan platform keren bernama AURA A.

Platform kecerdasan buatan lokal ini dirancang khusus untuk mendukung riset berbasis data demi menyelesaikan berbagai benang kusut pembangunan di Kaltim. Proyek ini rupanya sudah berjalan diam-diam selama dua tahun terakhir.

“Harapan kami, pengembangan AI ini tidak berhenti di tengah jalan. AI harus menjadi bagian dari penguatan sumber daya manusia IPTEK sekaligus menghasilkan solusi berbasis riset yang dapat dimanfaatkan masyarakat Kaltim ,” harap Fitriansyah.

Tak sekadar teori muluk-muluk, dalam sesi materi, para dosen langsung diajak hands-on alias praktik membedah berbagai macam tools AI canggih yang bisa membantu pekerjaan dosen jadi secepat kilat.

Hanif Fakhrurroja dari BRIN mengenalkan beberapa senjata rahasia berbasis AI yang siap memanjakan para peneliti diantaranya SocialX untuk menyedot dan mengumpulkan data dari media sosial.

Open Knowledge Maps, untuk memetakan roadmap riset secara visual, lalu Claude AI & Scopus AI membantu menyusun Systematic Literature Review (SLR) dengan cepat dan akurat.

Dengan bekal praktik langsung ini, diharapkan pulang ke kampus masing-masing membawa bekal kemampuan AI yang mumpuni, produktif, namun tetap kokoh menjaga kejujuran ilmiah.

“AI sebaiknya diposisikan sebagai kolaborator intelektual yang membantu peneliti bekerja lebih cepat dan lebih efektif. Namun keputusan ilmiah tetap berada di tangan manusia,” kata Hanif menambahkan singkat. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *