19 Oktober 2017

Berita Golkar - Surya Saragih, terdakwa tindak pidana penyalahgunaan narkoba mengaku, selain menjadi kurir sabu, dirinya juga menjabat sebagai bendahara Organisasi Kepemudaan (OKP) Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kota Tanjungbalai. Pernyataan itu disampaikan melalui persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa di Pengadilan Negeri Simalungun, Selasa (17/10) sekira jam 15.00 WIB.

Selain Surya, dua terdakwa lain yang ditangkap bersamanya adalah Dani Adrian dan Safril Tambuse, juga hadir di ruang sidang. Ketiga warga Kota Tanjungbalai itu didampingi penasehat hukum, Reinhard Sinaga. Sidang dipimpin oleh Lisfer Berutu selaku hakim ketua, didampingi hakim anggota, Novarina Manurung dan Mince Ginting, serta Christianto Situmorang bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam sidang tersebut, JPU, majelis hakim dan penasehat hukum mengajukan sejumlah pertanyaan kepada ketiga terdakwa. Mulai dari cara pemesanan sabu, harga sabu, dari siapa dan untuk siapa sabu tersebut, serta sudah berapa lama mereka berbisnis sabu.

Menjawab semua pertanyaan itu, Surya menuturkan Safril sudah berulang kali memesan sabu kepadannya. “Sudah beberapa kali dia pesan (sabu). Tapi, baru sekali yang jadi (pemesanannya),” ungkapnya. Sebelumnya, terdakwa Surya mengatakan 1 Mei 2017 di Nagori Bah Jambi, Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Simalungun, Safril memesan sabu seberat satu gram dengan harga Rp 650 ribu. “Tapi, dia (Safril) bilang mau ngasih Rp700 ribu, Rp50 ribu untuk uang rokok ku. Kebetulan pas memesanan itu, dia minta-minta tolong samaku, makanya ku kasih,” jelasnya.

Masih kata Surya, setelah memperoleh sabu dari Ismail yang disebut-sebut sebagai bandar sabu di Tanjungbalai dan kini sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Kemudian, dia menyuruh Dani mengantar sabu tersebut kepada Safril. “Aku dan Tambuse (Safril) sudah lama kenal. Kami satu organisasi, aku Bendahara AMPI,” bebernya tanpa menerangkan apa alasannya berbisnis sabu.

Masih dalam persidangan, Dani mengaku bahwa dirinya tidak mengenal Safril. Tetapi hanya disuruh mengantar sabu tersebut. Sementara, Safril yang ditanyai terkait sabu satu gram tersebut memberikan keterangan berbelit. Bahkan, pernyataan Safril tidak sesuai Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Dalam BAP, Safril menerangkan bahwa sabu tersebut hendak dijual kepada Faisal (DPO), warga Nagori Bah Jambi, Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun seharga Rp1 juta.

Tidak itu saja, sebelumnya, Safril juga pernah menjual sabu kepada Faisal seharga Rp1.050.000. Namun, dalam persidangan, Safril mengaku bahwa sabu tersebut hendak dikonsumsi bersama Faisal, agar tahan kerja malam. “Aku mau kerja sama Faisal, kerja sawit. Pakai sabu supaya bisa kerja malam,”akunya. Usai mendengarkan keterangan terdakwa, sidang ditunda dan dilanjutkan pekan depan, dengan agenda pembacaan tuntutan. [metro24jam]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya