17 Januari 2021

Singgih Januratmoko Minta Pemerintah Impor dan Amankan Kebutuhan 426 Juta Dosis Vaksin COVID-19

Berita Golkar - Kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan vaksin Covid-19 bagi diri dan keluarganya dinilai sangat penting. Mengingat isu global dan krusial saat ini, ketersediaan vaksin tidak sebanding dengan permintaan dunia. Hal itu disampaikan oleh Singgih Januratmoko, Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) kepada BanyuwangiTIMES, Minggu (17/1/2021).

Menurut Singgih, pemerintah Indonesia terus berupaya untuk mengamankan kebutuhan vaksin Covid-19 bagi rakyat Indonesia. Vaksin yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 426 juta dosis vaksin. Salah satu upayanya adalah mengimpor vaksin, buatan Sinovac Biotech. Perusahaan farmasi Cina itu mengembangkan vaksin bernama CoronaVac.

Baca Juga: Hetifah Dukung Menparekraf Sandiaga Uno Prioritaskan Desa Wisata Eksotik di Kalimantan

Selain itu pemerintah juga bakal membeli vaksin buatan Bio Farma, Pfizer, Sinopharm, Moderna, dan AstraZeneca. Persoalannya, ketersediaan vaksin global belum mencukupi. Sementara itu, produksi vaksin dalam negeri menurut Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir, baru bisa terealisasi pada kuartal III tahun 2021, imbuh Legislator kelahiran Sleman, 7 Januari 1976 itu.

Vaksin Merah Putih produk Bio Farma, lanjut anggota DPR Dapil Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Boyolali, Kota Surakarta, Klaten dan kabupaten Sukoharjo tersebut saat ini masih menunggu bibit vaksin atau seed dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada kuartal I-2021.

Hal tersebut menjadi perhatian Vaksin merah putih merupakan inisiatif Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI dan tujuh lembaga lainnya.

Baca Juga: Peduli Korban Banjir, Golkar Kota Banjarmasin Salurkan Bantuan ke Masyarakat Murung Raya

Tujuh lembaga yang terlibat, lima di antaranya merupakan perguruan tinggi yaitu Universitas Indonesia (UI) Jakarta, UGM Yogyakarta, Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Sementara dua lembaga lain adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan LIPI yang berada di bawah Kemenristek RI.

Singgih juga mendorong Bio Farma dan pihak-pihak terkait, terus melakukan penelitian dan mencari alternatif lain, seperti vaksin maupun obat untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran wabah Covid-19.

Ia juga mengingatkan keberhasilan program vaksinasi dalam situasi wabah sangat bergantung pada efektifitas program Tes, Telusur, Isolasi, dan Karantina yang ditunjang strategi 5M (Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Membatasi Mobilitas dan Menjauhi Kerumunan).

Baca Juga: Agung Widyantoro, Pengabdian Tanpa Henti Untuk Kabupaten Brebes

“Penegakan protokol kesehatan ini sangat penting sebelum terbentuknya herd immunity, masyarakat harus sadar mengenai hal tersebut. Ditunjang dengan ketegasan pemerintah daerah untuk mendisiplinkan warganya dalam menjalankan protokol kesehatan,” imbuh pria yang juga Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia) itu.

Tanpa penegakan protokol kesehatan, masyarakat abai dan tidak disiplin serta terus menganggap sepele wabah yang mengakibatkan sulitnya memutus sirkulasi penularan virus, “Menyepelekan wabah membuat warga menjadi kurang hati-hati, yang membuat mereka rentan terpapar virus corona,” imbuh pebisnis ternak ayam yang sukses itu.

Edukasi dan sosialisasi tentang wabah Covid 19 dan protokol kesehatan, menurut Singgih menjadi kunci pencegahan dan penanggulangan, sebelum vaksin Covid-19 benar-benar tersedia untuk seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga: Lukman Padang Dipercaya Pimpin Ormas MKGR Pakpak Bharat

Ia menambahkan pemahaman yang kurang tepat terkait wabah Covid-19 membuat masyarakat menjadi panik, “Justru kepanikan dan ketakutan masyarakat itu membuat imunitas tubuh menurun,” jelasnya.

Masyarakat membutuhkan informasi yang utuh dan benar, mengedukasi dan membangkitkan kesadaran berpikir positif. Misalnya kabar dari para penyintas mengenai virus tersebut, “Bagaimana proses para penyintas sembuh bisa memotivasi masyarakat dan mengenali virus corona dengan baik,” kata Singgih.

Politisi Partai Golkar terseut melihat yang terjadi saat ini justru sebaliknya, berbagai pemberitaan yang menakutkan dari media massa maupun media sosial dan diulang-ulang oleh masyarakat sehingga bisa memicu ketakutan massal, yang justru kontraproduktif bahkan bisa mengancam kelangsungan kegiatan perekonomian masyarakat.

Baca Juga: Puteri Komarudin Nilai Butuh Payung Hukum Memadai Lindungi Konsumen Jasa dan Layanan Fintech

“Selain itu, masyarakat juga cenderung melihat wabah Covid-19 seperti flu biasa, yang membuat masyarakat menganggap remeh terhadap wabah yang belum ditemukan obatnya tersebut.

Kami meminta pemerintah dan media massa tidak berhenti melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat, sehingga semua pihak lebih berhati-hati, waspada dan disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan serta tidak dihinggapi ketakutan dan kecemasan yang berlebihan,” pungkas Singgih. {jatimtimes}

fokus berita : #Singgih Januratmoko