27 Maret 2019

Berita Golkar - Bisa jadi banyak warga negara yang tidak sadar dalamnya makna dari apa yang tertulis dalam Naskah Proklamasi hasil karangan Drs. Mohammad Hatta dan Mr. Raden Achmad dan yang dicatat atau ditulis tangan oleh Ir. Soekarno. Sekedar mengingatkan memori, bunyi teks tersebut adalah sebagai berikut:

Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 – 8 – ’05
Atas nama Bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Topik Naskah Proklamasi yang dikaitkan dengan konsepsi hak bangsa terjajah (self determination), secara nasional dan perbandingannya di dunia internasional dan segala konsekuensinya menjadi kupasan ceramah Dr. Hassan Wirajuda, diplomat senior sekaligus mantan Menteri Luar Negeri 2 periode semasa kepemimpinan Presiden SBY pada kuliah umum di Universitas Lampung, Senin (25/3).

Baca juga: Mulia! Efin Nurtjahja Gelar Pelatihan Barista Untuk Tuna Rungu di Teluk Betung

Kuliah umum tersebut sangat dinanti para civitas academica FISIP dan mahasiswa lainnya di Unila. Acara ini terselenggara berkat tawaran Efin Nurtjahja kepada Dr. Ari Darmastuti, Pimpinan Jurusan Hubungan Internasional untuk hadirkan Dr. Hassan Wirajudha di lingkungan FISIP khususnya dan Unila pada umumnya.

Kehadiran ahli sekaligus tokoh penting, menguasai lintas ilmu, apalagi sarat pengalaman lapangan diplomasi global, dan dihormati, merupakan kualitas sangat penting bagi semua yang terlibat di dunia pendidikan. Para mahasiswa dan juga dosen memperoleh insentif positif dan berharga.

Baca juga: Ngopi Dimana Caleg-Caleg Perempuan Partai Golkar Ini?

Selama dua jam penuh, Dr. Hassan Wirajuda mengupas topik menarik mengenai Naskah Proklamasi dikaitkan dengan konsep berfikir tentang hak kemerdekaan segala bangsa untuk keluar dari suatu penjajahan. “Naskah Proklamasi mengandungi cara berfikir orisinal dari para pendiri bangsa, penggagas kemerdekaan RI,” ungkap Hassan.

Konsepsi berfikir yang jenuin tersebut berakar dari suasana kebatinan yang berkembang saat itu. Pilihan diksi ‘menyatakan’ dan ‘ frasa ‘pemindahan kekoeasaan’ menjadi ekstraksi rasa dan nalar para konseptor kemerdekaan. Disebutkan bahwa kata ‘menyatakan’ menunjukkan konsep kepercayaan diri menginformasikan kepada publik internasional bahwa Indonesia telah merdeka, telah mengeluarkan diri dari penjajahan.

Baca juga: Efin Nurtjahja dan PSMTI Terapkan Sakai Sambayan Dengan Berbagi Pada Sesama

Sedangkan frasa ‘pemindahan kekoeasaan’ merujuk kepada tidak tergantung kepada negara lain untuk menjadikan diri merdeka. Frasa tersebut mengacu kepada tindakan unilateral, tindakan atas kemauan sendiri dan dilakukan sendiri. Bukan tindakan serah terima yang melibatkan dua pihak: yang memberi dan yang menerima atau bilateral. Yang terakhir mengandung unsur dominan dan subordinat yang tidak dikehendaki para pendiri bangsa.

Pada bagian lain, Efin Nurtjahja menggarisbawahi pentingnya implikasi kuliah umum bagi para mahasiswa. “Cakrawala berfikir menjadi lebih luas, memotivasi untuk bermimpi lebih besar, sekaligus lebih membuka kesadaran akan prasyarat memenangkan kompetisi yang semakin kompleks untuk menjadi sukses,” terangnya.

Efin merasa puas dengan antusiasme para mahasiswa dan dosen. Keyakinan bertambah tebal bahwa di atas lima tahun ke depan akan muncul banyak diplomat-diplomat membanggakan dan terhormat yang berasal dari Lampung yang akan lebih membesarkan nama Indonesia di kancah dunia. [kontributor Lampung]

fokus berita : #Efin Nurtjahja


Kategori Berita Golkar Lainnya