Indonesia-Filipina Resmi Bentuk Poros Nikel Dunia, Airlangga Hartarto: Kita Kuasai 73 Persen Pasar Global!

Berita Golkar – Indonesia dan Filipina resmi menyatukan kekuatan untuk mendominasi peta jalan mineral kritis dunia. Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation, kedua negara sepakat membangun poros nikel yang tak tergoyahkan di kawasan Asia Tenggara.

Kesepakatan strategis ini diteken oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di sela-sela rangkaian KTT AECC ke-27 di Cebu, Filipina.

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk menciptakan Indonesia-Philippines Nickel Corridor. Sebuah platform yang akan mengintegrasikan kekuatan hilirisasi Indonesia dengan ketersediaan bahan baku dari Filipina.

“Ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi koridor nikel yang menghubungkan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih hulu dari Filipina. Poros ini akan menjadi cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (9/5/2026), dikutip dari Inilah.

Dominasi Mutlak di Pasar Global

Langkah ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, gabungan produksi nikel Indonesia dan Filipina menguasai 73,6 persen produksi global sepanjang tahun 2025.

Indonesia menyumbang angka raksasa sebesar 66,7 persen atau 2,6 juta ton, sementara Filipina berkontribusi 6,9 persen atau 270.000 ton. Dari sisi cadangan, Indonesia mengantongi 44,5 persen cadangan dunia, disusul Filipina dengan 3,4 persen. Penyatuan dua raksasa ini praktis membuat kawasan ini menjadi penentu arah harga dan pasok nikel dunia.

Sinergi Hulu-Hilir dan Keamanan Pasokan

Airlangga menjelaskan, smelter di Indonesia saat ini membutuhkan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium yang tepat. Kebutuhan spesifik ini dapat dipenuhi oleh bijih nikel asal Filipina melalui proses blending.

“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Mereka akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi. Di sisi lain, Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri baterai dan baja tahan karat kita,” jelasnya.

Hilirisasi nikel Indonesia memang tengah melesat. Pada 2025, nilai ekspor produk olahan nikel mencapai USD9,73 miliar. Pemerintah bahkan membidik proyeksi investasi hingga USD47,36 miliar pada 2030 dengan potensi penyerapan 180.600 tenaga kerja.

Ujung Tombak Transisi Energi

Lebih dari sekadar komoditas tambang, nikel kini memegang peran sentral dalam transisi energi hijau. Produk turunan nikel bakal diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi, baik melalui baterai kendaraan listrik (EV) maupun penyimpanan energi panel surya (energy storage).

Untuk mempercepat ambisi ini, Pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis. KEK diharapkan menjadi lokomotif investasi smelter dan pusat inovasi teknologi hilirisasi berstandar internasional.

“Hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih dan berkelanjutan sesuai arahan KTT AECC untuk memperkuat rantai pasok kritis di ASEAN,” pungkas Airlangga. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *