11 Januari 2018

Berita Golkar - Pertarungan Pilkada Kabupaten Sanggau 2018 hampir pasti hanya akan diikuti dua pasang calon, Poulus Hadi-Yohanes Ontot (PH-YO) dan Yansen Akun Effendi-Fransiskus Ason (YAS). Mengingat seluruh partai yang memiliki kursi di DPRD sudah habis terbagi. Sementara jalur independen, hingga berakhir waktu pendafataran, tak seorangpun yang mendaftar.

Setelah pasangan petahana, PH-YO mendaftar pada Senin (8/1/18), giliran pasangan YAS mendaftar ke KPU Sanggau, Selasa (9/1/18). Seperti PH-YO, sebelum mendaftar pasangan YAS menggelar deklarasi di gedung DPD II Partai Golkar Sanggau. Deklarasi dihadiri para ketua dan pengurus partai pengusung YAS, Golkar dan PKB. Meski demikian, gedung tak sanggup menampung para simpatisan dan relawan yang hadir. Jumlahnya mencapai seribu lebih.

Dalam orasi politiknya, Yansen dan Ason berkomitmen mengedepankan politik santun dan beretika, guna mencegah perpecahan di Sanggau. “Tujuan kita mengikuti Pilkada ini untuk membangun, bukan membuat kita bercerai berai. Kita semua orang Sanggau, kita ini bersaudara. Jangan mau diadu domba untuk memenuhi nafsu politik sekelompok orang. Persatuan kita jauh lebih penting dari sekedar merebut kekuasaan,” kata Yansen, Selasa (9/1/18).

Yansen mengaku tetap santai menghadapi serangan-serangan terhadap dirinya, termasuk isu sebagai mantan narapidana. Dikatakannya, tidak ada kepala daerah yang sempurna. Pasti ada pelanggaran hukum yang dilakukan, sengaja ataupun tidak sengaja. “Tugas kita fokus memenangkan Pilkada. Kalau ada tim lain yang memulai pun jangan dibalas. Jangan rusak persaudaraan kita dengan hal yang tidak penting,” ingatnya.

Hal serupa disampaikan bakal calon Wakil Bupati Sanggau, Fransiskus Ason. Ason mengajak kandidat Kepala Daerah yang bertarung untuk beradu program, visi dan misi mensejahterakan rakyat. “Tujuan kami maju bersama pak Yansen adalah untuk membangun Sanggau, bukan memecah-belah. Saya berpesan kepada seluruh tim koalisi, relawan dan simpatisan untuk tetap fokus berjuangan,” pesannya

Persatuan dan kesatuan, lanjut Ason, adalah modal utama pembangunan. “Tidak ada Dayak, Melayu, Cina, Jawa, Bugis, Madura dan lain sebagainya. Kita ini sama, di hadapan Tuhan dan di hadapan hukum. Jadi jangan bawa-bawa isu agama, isu etnis, karena kita semua adalah sama,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, menjadi pemimpin harus berani. Jangan plin plan. Gunakan dana yang ada untuk kepentingan rakyat. “Kalau tidak berani pasti ada apa-apanya. Kalau saya jadi pemimpin, kepala dinas/badan yang tidak mampu langsung kita ganti karena saya tidak mau orang-orang yang membantu saya tidak mampu bekerja,” tegasnya.

Lagi-lagi ia mengingatkan kepada seluruh tim, tidak membalas hinaan. “Cukup kita lawan dengan senyuman. Berpegang teguhlah pada tujuan kita meraih kemenangan bersama rakyat, karena prinsipnya kemenangan adalah untuk dan milik rakyat bukan segelintir orang,” ingatnya. Usai berorasi politik, pasangan yang dikenal dengan slogan MANTAP ini menuju KPU Sanggau didampingi partai koalisi, relawan dan simpatisan. [equator]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya