DPP, Slipi  

Jejak Jalur Sutra, Muslim Hui, hingga Semangkuk Lamian di Kota Lanzhou

Berita Golkar – Biasanya ada tempat yang kita kunjungi karena terkenal akan wisatanya, tapi ada pula kota yang setelah kita tinggalkan justru membuat kita ingin membaca kembali sejarah. Bagi saya, Lanzhou termasuk yang kedua. Pada 19–21 Juli 2026, saya berkesempatan mengunjungi Lanzhou sebagai bagian dari delegasi Partai Golkar atas undangan International Department of the Communist Party of China (IDCPC).

Terima kasih sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Prof. Ali Mochtar Ngabalin, Ketua Bidang Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar, serta Ibu Amriyati Amin, Sekretaris Delegasi, atas kesempatan berharga ini. Kunjungan yang semula merupakan bagian dari agenda kegiatan delegasi tersebut membawa saya pada pengalaman yang lebih personal yaitu mengenal Lanzhou sebagai kota yang menyimpan perjumpaan panjang antara sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.

Lanzhou bukan Beijing dengan kompleks politik dan sejarah kekaisarannya, juga bukan Shanghai dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Kota ini tumbuh mengikuti aliran Sungai Kuning atau Huang He, di tengah lanskap pegunungan kering khas China barat laut. Letaknya yang strategis menjadikan Lanzhou sejak masa lampau sebagai salah satu penghubung penting antara wilayah pedalaman China dan kawasan di sebelah barat. Ketika membaca sejarah Jalur Sutera, kita sering membayangkan kafilah unta, gurun pasir dan para pedagang yang membawa sutra dari Timur.

Namun, di Lanzhou saya melihat bahwa Jalur Sutera sesungguhnya jauh lebih manusiawi dimana ruang tempat orang bertemu, berdagang, menetap, bertukar gagasan, dan membawa kebudayaan dari satu tempat ke tempat lainnya. Kawasan Gansu menjadi bagian penting dari koridor yang menghubungkan pusat-pusat politik China dengan Asia Tengah. Dari Chang’an, para pedagang membawa sutra, keramik, teh dan berbagai barang China, sementara dari arah sebaliknya datang kuda, batu mulia, tekstil, rempah, teknologi, musik, gagasan dan keyakinan. Perjumpaan selama berabad-abad itu ikut membentuk wajah Lanzhou hingga hari ini.

Jejak Muslim Hui di Lanzhou

Dalam perjalanan sejarah tersebut, Islam kemudian menemukan ruangnya di China. Salah satu komunitas penting adalah masyarakat Hui, kelompok Muslim yang memadukan identitas budaya China dengan kehidupan keislaman. Gansu, bersama Qinghai, Ningxia dan Shaanxi, menjadi salah satu kawasan penting bagi perkembangan komunitas Hui. Tidak jauh dari Lanzhou terdapat Linxia Hui Autonomous Prefecture, yang dikenal sebagai salah satu pusat masyarakat Hui dan tradisi Islam di China barat laut.

Kesan itu semakin kuat ketika kami bertemu dengan Mr. Xiao Jinlong, pemimpin Yongjing County di Linxia Hui Prefecture, Provinsi Gansu. Xiao Jinlong berasal dari komunitas Hui dan beragama Islam. Bagi saya, perjumpaan itu menunjukkan secara lebih nyata bagaimana seorang anggota komunitas minoritas dapat membangun karier politik dan mengambil bagian dalam pemerintahan daerah melalui struktur politik yang ada. Di hadapan kami yang hadir bukan sekadar perwakilan Muslim Hui, melainkan seorang individu yang membawa identitas komunitasnya sekaligus menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin daerah.

Berjalan di Lanzhou juga memperlihatkan bagaimana kehidupan Muslim Hui hadir di tengah kehidupan kota. Di antara papan-papan bertuliskan karakter Mandarin, kita dapat menemukan restoran halal, masjid dan berbagai ekspresi kehidupan komunitas Muslim. Bahkan, Lanzhou memiliki sejarah yang menarik mengenai keberadaan masjid khusus perempuan. Salah satunya adalah Lulan Women’s Mosque, yang didirikan pada 1956 oleh sekelompok perempuan Muslim yang pindah dari Henan ke Lanzhou.

Tradisi masjid perempuan sendiri telah berkembang di China sejak akhir Dinasti Qing, menunjukkan kekhasan perkembangan kehidupan Islam di sebagian komunitas Muslim China. Bagi saya yang datang dari Indonesia, pengalaman ini terasa akrab sekaligus berbeda. Islam di Lanzhou memiliki warna lokalnya sendiri dan telah menjadi bagian dari perjalanan sosial dan kebudayaan kawasan tersebut selama berabad-abad.

Sejarah dalam Semangkuk Lanzhou Lamian

Menariknya, salah satu cara terbaik memahami perjumpaan budaya China dan komunitas Muslim Hui justru bukan melalui buku sejarah, melainkan melalui makanan. Lanzhou Beef Noodles atau Lanzhou Lamian adalah contoh paling sederhana sekaligus paling hidup. Mi gandum yang ditarik dengan tangan, kuah bening berbahan dasar daging sapi, lobak, daun bawang, daging sapi dan minyak cabai mungkin terlihat sederhana.

Namun, di baliknya terdapat sejarah panjang mengenai makanan, migrasi, perdagangan dan tradisi masyarakat. Hubungannya dengan komunitas Hui menjadikan Lanzhou Lamian lebih dari sekadar makanan khas daerah, ia juga menjadi bagian dari identitas kuliner yang berkembang bersama kehidupan Muslim di barat laut China.

Delegasi Partai Golkar mendapatkan kesempatan menikmati Lanzhou Beef Noodles di Amber Restaurant di Kota Lanzhou. Duduk bersama, menikmati semangkuk mi panas dan melihat bagaimana makanan tersebut disiapkan menjadi pengalaman sederhana tetapi berkesan. Saya kemudian membayangkan bahwa dahulu para pedagang Jalur Sutera mungkin juga membangun percakapan di sekitar makanan.

Mereka datang dari tempat yang berbeda, membawa bahasa, keyakinan dan kebiasaan yang berbeda, tetapi selalu membutuhkan ruang untuk duduk dan makan bersama. Hari ini, kafilah telah berganti menjadi pesawat dan kereta cepat, tetapi semangat perjumpaan itu masih terasa dalam pengalaman sederhana di meja makan.

Kunjungan ke Lanzhou membuat saya menyadari bahwa sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh gedung, jalan dan infrastruktur modern. Lanzhou tumbuh dari pertemuan antara Sungai Kuning, Jalur Sutera, perdagangan, masyarakat Han, komunitas Muslim Hui dan berbagai kelompok masyarakat di China barat laut. Sejarah itu terus hidup dalam keseharian, termasuk melalui sosok pemimpin seperti Xiao Jinlong dan semangkuk Lanzhou Beef Noodles.

Bagi saya, perjalanan delegasi Partai Golkar ke Lanzhou bukan hanya kesempatan memahami China melalui hubungan antar partai, tetapi juga melihatnya melalui wajah masyarakatnya. Jalur Sutera menunjukkan bahwa peradaban tumbuh melalui perjumpaan, masyarakat Hui menunjukkan bagaimana identitas dapat bertahan sekaligus beradaptasi, sementara mie lamian mengingatkan bahwa sejarah sering kali hidup dalam hal-hal sederhana. Lanzhou akhirnya mengajarkan bahwa memahami sebuah bangsa bukan hanya dengan melihat kemajuan dan kekuatannya, tetapi juga dengan mengenal sejarah, masyarakat, dan kehidupan sehari-harinya. []

Oleh: Yollanda Vusvita Sari, M.Pd, Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Pengajian Al Hidayah/Dosen Prodi Komunikasi IBI Kosgoro 1957