Lamhot Sinaga Bidik Potensi Ulos Silaen, Warisan Budaya Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Berita Golkar – Komisi VII DPR RI mendorong, masyarakat Desa Silaen, Kabupaten Toba, Sumatra Utara, mengoptimalkan kain ulos sebagai produk unggulan ekonomi kreatif. Pengembangan warisan budaya Batak tersebut, dinilai berpotensi meningkatkan pendapatan penenun, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat perekonomian masyarakat desa.

Parlemen menilai, kekayaan budaya dan keterampilan masyarakat dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Yakni, apabila didukung inovasi, peningkatan kualitas produk, dan akses pemasaran yang memadai.

“Desa memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Kuncinya adalah bagaimana masyarakat mampu mengolah potensi tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah, daya saing, dan pasar yang jelas,” kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga Lamhot saat menjadi pembicara utama dalam kegiatan Aktivasi Desa Kreatif Melalui Pengembangan Ruang Kreatif di Desa Silaen, Sumut, Senin (26/10/2026), dikutip dari rri.

Menurut Lamhot, pengembangan ekonomi desa tidak cukup hanya bertumpu pada ketersediaan sumber daya alam. Masyarakat juga perlu meningkatkan kreativitas untuk menghasilkan produk bernilai tambah yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

Lamhot menilai, keterampilan menenun dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat pada setiap motifnya. “Para penenun harus kita dorong agar karyanya semakin dikenal, dihargai, dan memberikan kesejahteraan bagi mereka,” ucapnya.

Kemudian, Lamhot mengatakan, penguatan industri kreatif berbasis ulos perlu dimulai dari peningkatan kualitas bahan baku, teknik produksi, pewarnaan, hingga penyelesaian produk. Inovasi tersebut, harus tetap memperhatikan makna tradisional dan kekhasan motif agar identitas budaya ulos tidak hilang.

Selain mempertahankan fungsi kain untuk kebutuhan adat, pelaku usaha didorong mengembangkan berbagai produk turunan berbahan ulos. Produk tersebut, dapat berupa tas, dompet, aksesori, dekorasi rumah, suvenir, hingga busana modern yang memiliki peluang menjangkau kelompok konsumen lebih beragam.

Pengembangan produk, ia menilai, dapat memperluas kerja sama antara penenun, perancang busana, penjahit, perajin, dan pelaku UMKM. Kolaborasi tersebut, diharapkan membentuk rantai usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi lebih banyak masyarakat.

“Kalau ekosistemnya dibangun dengan baik, manfaat ekonomi ulos tidak hanya dirasakan penenun. Ada banyak pekerjaan lain yang bisa tumbuh di sekitarnya. Inilah yang kita harapkan dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi daerah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peluang pekerjaan dari industri ulos tidak terbatas pada kegiatan menenun. Usaha pendukung seperti penyediaan bahan baku, desain, pengemasan, fotografi produk, pemasaran digital, hingga pengelolaan toko daring juga berpotensi berkembang.

Untuk memperluas pasar, Lamhot mendorong, pelaku usaha memanfaatkan platform digital, pameran, katalog produk, dan gerai kerajinan. Kemitraan dengan hotel, restoran, penyelenggara kegiatan, serta pelaku pariwisata juga dinilai dapat membantu produk lokal menjangkau konsumen nasional maupun internasional.

“Ruang kreatif jangan hanya menjadi tempat berkumpul, ruang ini harus mampu melahirkan karya, mendorong tumbuhnya usaha baru. Kita ingin anak-anak muda di Silaen melihat bahwa kreativitas juga bisa menjadi sumber penghidupan,” katanya. []