Berita Golkar – Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI, Robert Kardinal menyoroti aspek ketenagakerjaan di sektor penerbangan khususnya di Papua. Menurut dia, keterlibatan tenaga kerja lokal masih sangat minim, baik sebagai pilot, awak kabin, maupun tenaga bandara.
“Harusnya anak-anak Papua diberi kesempatan lebih besar,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
“Coba lihat karyawannya dari 100 orang, yang anak Papua mungkin cuma 10 orang.”
Menurut Robert, tenaga kerja lokal Papua seharusnya lebih dominan di sektor penerbangan. “Kalau karyawannya 100, anak Papua seharusnya ada 90 orang, bukan 10 orang,” ucapnya, dikutip dari RRI.
Untuk menekan harga tiket perbangan di kawasan Indonesia Timur, Robert meminta Keementerian Perhubungan (Kemenhub) membuka seluas-luasnya akses bagi maskapai swasta. Termasuk maskapai penerbangan luar negeri yang diperkenankan untuk melayani rute domestik di Indonesia. “Terutama di wilayah yang belum terlayani optimal,” ujarnya.
Kalau swasta dalam negeri belum mampu, lanjut dia, silakan dibuka untuk maskapai dari Singapura, Malaysia, Australia, bahkan Eropa atau Tiongkok.
Robert menuturkan banyak warga Indonesia Timur berharap harga tiket pesawat bisa turun. Ini karena harga tiket penerbangan yang didominasi Garuda Indonesia dan Lions Grup itu bisa mencapai Rp15-20 juta untuk sekali terbang.
“Sejumlah maskapai bertarif rendah (low cost carrier) dapat menjadi alternatif untuk menciptakan persaingan sehat di pasar domestik,” ujarnya.
Misalnya Scoot asal Singapura, Jetstar (Australia), AirAsia, dan Firefly (Malaysia). Selain membuka akses pasar, Robert juga menyatakan perlunya reformasi kebijakan avtur yang saat ini masih dimonopoli satu pihak.
Dia mengusulkan agar maskapai diberikan izin mengimpor bahan bakar sendiri guna menekan biaya operasional. “Kalau avtur saja dimonopoli, bagaimana harga tiket bisa kompetitif,” ujarnya.
Robert menegaskan maskapai harus diberi ruang untuk mencari biaya yang lebih efisien. Politisi Partai Golkar itu menegaskan pembukaan pasar dan perbaikan regulasi harus diiringi keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal. Tujuannya agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
“Negara harus hadir sebagai regulator yang adil,” ujarnya.
“Bukan justru membiarkan rakyat terjebak dalam sistem yang tidak kompetitif.”
Industri penerbangan nasional tengah menghadapi tekanan berat di tengah gejolak ekonomi global. Asosiasi maskapai yang tergabung dalam INACA menilai kondisi saat ini tidak sejalan dengan struktur biaya yang berlaku.
Sehingga INACA meminta penyesuaian tarif untuk menjaga keberlanjutan operasional akibat tekanan eksternal yang semakin meningkat. Ini menjadi faktor utama yang mendorong ketidakpastian ekonomi, terutama melalui lonjakan harga energi dan fluktuasi nilai tukar.
“Konflik geopolitik membuat kondisi ekonomi internasional menjadi tidak kondusif,” kata INACA melalui keterangannya, Rabu (25/3/2026).
Dampak langsung dari kondisi tersebut adalah meningkatnya harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dua komponen utama itu, dinilai sangat mempengaruhi struktur biaya maskapai. “Biaya operasional maskapai penerbangan nasional menjadi sangat tinggi,” ucap INACA. []



