Berita Golkar – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkap pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri mencapai US$ 6,7 miliar. Pemerintah lantas melihat peluang untuk menarik sebagian belanja tersebut kembali ke dalam negeri melalui penguatan wisata belanja.
Airlangga mengatakan belanja dan kuliner menjadi bagian penting dari pengeluaran wisatawan di berbagai negara tujuan. Karena itu, Indonesia perlu mendorong wisatawan agar lebih banyak membelanjakan uangnya di dalam negeri.
“Dan kita melihat juga total kunjungan wisata sebetulnya naik, wisatawan mancanegara. Nah, tentu di berbagai negara tujuan dari wisatawan sebagian kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja,” kata Airlangga dalam Indonesia Retail Summit and Expo (IRSE) 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026), dikutip dari InvestorTrust.
Menurut Airlangga, wisata belanja dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru. “Dan kita berharap bahwa ini juga bisa memanfaatkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru karena ini bagi pemerintah ini merupakan low-hanging fruit,” ujarnya.
Besarnya potensi konsumsi domestik juga terlihat dari kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai 53,32% terhadap produk domestik bruto (PDB). Airlangga mengatakan bahwa konsumsi masih menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia dengan pertumbuhan sekitar 5%.
Potensi retail offline
Dari sisi industri, nilai perdagangan retail offline mencapai sekitar US$ 125 miliar. Sementara transaksi online tercatat US$ 61,18 miliar, sehingga sekitar dua pertiga perdagangan masih berlangsung secara offline.
Airlangga pun menyoroti pentingnya ketersediaan stok barang di dalam negeri. Hal ini guna mencegah larinya calon pembeli.
“Kita tidak ingin stoknya tipis akibatnya masyarakat Indonesia belanjanya di tempat lain di luar negeri. Tapi dengan adanya stok yang lebih besar, tentu yang belanja akan lebih banyak lagi,” kata politisi Partai Golkar itu.
Pemerintah menilai penguatan sektor retail dan wisata belanja dapat membantu menjaga momentum ekonomi domestik. Airlangga menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir tahun dapat menuju 6% dan kembali mencapai 6% pada tahun depan.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong merek nasional dan pelaku retail memperkuat pasar domestik. Langkah tersebut dinilai penting agar peningkatan aktivitas pariwisata tidak hanya mendorong jumlah kunjungan, tetapi juga meningkatkan belanja dan nilai ekonomi yang terserap di Indonesia. []



