20 Desember 2019

Berita Golkar - Wakil Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian mengatakan bahwa Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter yang diperuntukan sebagai pengganti Ujian Nasionak (UN) harus dilaksanakan.

Hetifah menilai asesmen tetap perlu untuk menilai sistem pendidikan saat ini. “Ini sebagai pertanggungjawaban terhadap masyarakat. Anggaran pendidikan sangat besar, dan setiap rupiah harus ada akuntabilitasnya”, kata Hetifah di Jakarta, Jumat (20/12).

Hetifah menyebut harus tetap ada yang dirubah kedepan, yaitu paradigmanya. Menurut Politisi Partai Golkar tersebut, ujian bukan lagi sebagai ajang kompetisi antar-siswa, dan harus terjadi secara natural. 

Baca Juga: Mujib Rohmat Sebut Agama dan Negara Satu Kesatuan Yang Saling Melengkapi

“Jadi, tidak perlu lagi ada drill-drill (Pelatihan Tambahan) menjelang UN, yang hingga banyak  mengorbankan kegiatan lain seperti hobi atau ekskul. Jika begitu, hasil yang sebenarnya tidak terpetakan,” ujar Hetifah.

Hetifah juga meminta pemerintah khususnya Kemendikbud selain memfokuskan pembenahan asesmen pendidikan, namun juga harus fokus pada peningkatan kompetensi guru, khususnya pada kesiapan menghadapi Asesmen Kompetensi tersebut.

“(Kesiapan Guru) Itu sebetulnya yang jadi catatan terakhir. Jadi saya kira kita harus tetap fokusnya dan prasyarat atau kunci keberhasilan sebenarnya di guru. Kita tidak boleh over estimated soal kemampuan guru itu. Bukan berarti kita merendahkan kemampuan mereka tapi kita perlu, dan justru kita harus fokus mendorong kesiapan guru,” katanya. {www.gatra.com}

fokus berita : #Hetifah Sjaifudian


Kategori Berita Golkar Lainnya