08 Juni 2020

Hanya 15 Yang Sehat, Lamhot Sinaga Dukung Menteri Erick Thohir Suntik Mati BUMN Yang Jadi Beban

Berita Golkar - Dari sekitar 140 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada di Indonesia, hanya 15 perusahaan saja yang dapat memberikan deviden kepada pemerintah. Sehingga wacana “suntik mati” BUMN “guram” yang dilontarkan Erick Thohir selaku Menteri BUMN, menjadi sebuah keharusan.

Demikian disampaikan anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Golkar, Lamhot Sinaga, kepada Redaksi24.com, saat dimintai tanggapan terkait wacana pemerintah mengakuisisi sejumlah BUMN sebagaimana disampaikan Erick Thohir, beberapa waktu lalu.

“Saya mendukung kalau memang pemerintah mengakuisisi BUMN yang selama ini justru menjadi beban pemerintah. Ada dua opsi sebetulnya, yaitu mengakuisisi atau membekukan dan dimerger dengan BUMN lainnya. Karena memang dari sekitar 140 jumlah BUMN yang ada, hanya sekitar 15 saja yang memberikan devidennya kepada pemerintah,” ujar Lamhot.

Baca Juga: Lawan COVID-19, Tetty Paruntu Minta Warga Minsel Tetap Tenang dan Tingkatkan Waspada

Saat disinggung soal nasib karyawan BUMN yang akan dibekukan, Lamhot mengatakan bahwa persoalan karyawan tidak perlu dikhawatirkan. Karena, katanya, karyawan BUMN yang diakuisisi, bisa dialihkan ke BUMN lain.

“Saya kira karyawan BUMN yang akan dibekukan, tidak perlu khawatir. Mereka bisa dialihkan ke BUMN lain sesuai dengan bidangnya masing-masing,” ujarnya menambahkan.

Sebagaimana diberitakan, Kementerian BUMN berencana membubarkan perusahaan pelat merah yang eksistensinya tidak banyak berguna bagi publik.

Baca Juga: Program Kartu Prakerja, Nurul Arifin Yakinkan Masyarakat Tak Hanya Sembako Dan Uang Tunai Saja

Karenanya, Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, meminta pemerintah agar memberikan kewenangan tambahan yang dipegang Menteri BUMN. Hal itu dimaksudkan agar perusahaan-perusahaan yang tidak bisa dipertahankan untuk bisa dibubarkan. Tindakan demikian menurut Arya akan membuat kondisi lebih lega dan tidak menjadi beban negara.

“Kalau itu kan membuat kita akan lebih lega. Karena kan ada perusahaan-perusahaan yang memang, anda tahu Merpati? Masih terbang nggak? Nggak. Tapi masih ada perusahaannya. Masih terbang nggak? Kalau soal pesawat ada, kalau nggak terbang kan nggak ada operasi, tapi masih ada Merpati,” ujar Arya, Sabtu (6/6/2020) lalu.

Meski demikian Arya masih enggan menyampaikan ada tidaknya BUMN lain yang memiliki masalah seperti Merpati dan PT industri Gelas (Iglas). “Ada lah,” ucapnya.

Baca Juga: Riana Sari Pimpin IIPG Lampung Bagikan 500 Paket Sembako di Pringsewu

Terkait apakah akan dilakukan likuidasi atau tidak, Arya menyebut tidak bisa karena tidak ada kewenangan. Arya berharap akan ada kewenangan lebih agar bisa melakukan tindakan selanjutnya, baik merger atau membubarkan.

Sebelumnya, Erick Thohir menegaskan bahwa dirinya tidak akan segan-segan melakukan likuidasi terhadap BUMN yang ‘hidup segan tapi mati tak mau’ alias seperti ‘zombie’. Ia mencontohkan adalah PT Iglas (Persero).

PT Iglas (Persero) BUMN yang khusus memproduksi botol. Namun, bisnis Iglas kini sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang. Di sisi lain, Iglas juga memiliki utang Rp 1 triliun dan asetnya hanya tanah lokasi. BUMN ini sudah berhenti operasi sejak 2015, dan berdampak pada PHK hingga pesangon pekerjanya yang bermasalah.

Baca Juga: Siap Bersaing Dengan Soerya Respationo, Golkar Kepri Apungkan Nama Ansar Ahmad dan Isdianto

“Ya kalau likuidasi contoh perusahaan-perusahaan seperti Iglas terus gimana? masak mati segan hidup tak mau. Semua serba segan ya nggak itu nggak sehatlah ngapain kita membohongi diri sendiri kepada sesuatu yang bukan ahlinya,” ucapnya.

Pada April lalu, Kementerian BUMN juga resmi memulai penutupan total 51 anak dan cucu usaha BUMN dari 3 perusahaan. Hal ini merupakan bagian dari rasionalisasi perusahaan-perusahaan BUMN.

Menteri BUMN Erick Thohir dalam rapat kerjanya bersama dengan Komisi VI DPR RI saat itu menyebutkan bahwa penutupan anak usaha BUMN ini akan terus dilakukan ke depannya, tidak hanya terfokus pada PT Pertamina (Persero), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) saja.

Baca Juga: Alien Mus Salurkan Ribuan Paket Ikan dan Masker di Ternate dan Halmahera Barat

“Pada saat ini kami sudah melakukan langkah, hari ini Garuda menutup 6 anak perusahaan , pertamina 25 anak usaha perusahaan dalam 2 tahun. Lalu Telkom tahun ini 20 . Ini masih 3 perusahaan, kita minta terus,” kata Erick dalam rapat kerja virtual, Jumat (3/4/2020) lalu.

Dalam rapat ini Erick memaparkan, kementerian telah melakukan pemetaan perusahaan-perusahaan BUMN. Hasil dari pemetaan tersebut, kementerian telah membagi kelompok jumlah perusahaan berdasarkan keberlangsungan usahanya. {www.redaksi24.com}

fokus berita : #Lamhot Sinaga #Erick Thohir