Jalan Panjang Samsul Bahri Tiyong Perjuangkan Rakyat Aceh Sejahtera Lewat Jalur Politik

Berita Golkar – Samsul Bahri Ben Amiren atau dikenal dengan nama Tiyong bukanlah orang asing bagi masyarakat Aceh. Namanya sudah sangat dikenal di Tanah Rencong. Patriotismenya terhadap Aceh yang lantas membuat Samsul Bahri dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Pasalnya, Samsul Bahri adalah salah satu tokoh sentral yang mengusahakan pembebasan dan kemerdekaan Aceh dari RI sebelum tercapainya kesepakatan perdamaian di Helsinki.

Benar. Samsul Bahri Ben Amiren adalah salah satu tokoh GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang pernah menjadi momok bagi keutuhan NKRI. Namun berkat kedewasaan berbagai pihak, melalui kesepakatan Helsinki, GAM dan para kombatannya kembali dalam dekapan RI. Tak terkecuali sosok Samsul Bahri.

Oleh masyarakat Aceh, Syamsul Bahri dikenal luas bukan lantaran ia tokoh yang berada di balik meja atas keberadaan GAM. Lebih dari itu, Samsul Bahri merupakan kombatan, prajurit lapangan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Pangkatnya pun tak main-main ketika itu. Samsul Bahri merupakan Panglima Daerah I GAM wilayah Batee Iliek.

Sejak saat itu, nama Samsul Bahri Tiyong mulai dikenal. Ia adalah tokoh yang siap menumpahkan jiwa raganya untuk Aceh. Pun ketika Tiyong memutuskan bergabung dengan GAM. Ada dorongan moril dari dalam diri Tiyong bahwa dirinya harus senantiasa bermanfaat bagi rakyat Aceh. Apalagi di masa itu, rakyat Aceh jauh dari sentuhan pemerintah. Jangankan sejahtera, hidup layak saja sukar ia temui di Serambi Makkah.

Jadilah Tiyong mengangkat senjata, keluar masuk hutan, hidup dalam pelarian demi memperjuangkan apa yang ia ingin wujudkan bagi rakyat Aceh ketika itu. Dalam pikirannya, menjadi merdeka adalah pilihan yang tepat untuk Aceh. Dengan menjadi merdeka, Aceh dapat mengelola apa yang mereka miliki untuk kesejahteraannya sendiri.

Pasca kesepakatan Helsinki terjadi, konsep itu mulai berubah dan dipahami keliru oleh Tiyong. Mengangkat senjata dan membiarkan darah tertumpah ternyata bukan jalan satu-satunya. Masih banyak jalan lain untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Aceh. Salah satunya adalah melalui jalan politik.

Kesepakatan Helsinki kemudian membuka ruang lebih luas bagi rakyat Aceh untuk mengurus dirinya sendiri. Salah satunya adalah membuka peluang pendirian partai lokal Aceh. Dengan keberadaan partai lokal Aceh, diharapkan saluran politik dan kekuasaan bakal lebih mudah dijangkau.

Tiyong kemudian memasuki kancah perpolitikan di Aceh dengan mendirikan Partai Aceh bersama Muzakir Manaf dan kawan-kawan lainnya. Serupa dengan Tiyong, ribuan kombatan GAM lainnya turut pula masuk ke saluran-saluran politik kepartaian lain yang telah disediakan peraturan perundangan.

Selain Partai Aceh, terdapat lima partai lainnya yang turut mengikuti kontestasi politik. Kelima partai tersebut adalah Partai Adil Sejahtera Aceh (PAS Aceh), Partai Generasi Aceh Beusaboh Tha’at dan Taqwa, Partai Darul Aceh, Partai Nanggroe Aceh (PNA), dan Partai Sira (Soliditas Independen Rakyat Aceh).

Sejak memasuki kancah politik di Aceh, kiprah Tiyong di Partai Aceh juga sangat luar biasa. Pada tahun 2007, Tiyong diamanahkan jabatan sebagai Sekretaris DPW Partai Aceh Bireuen hingga tahun 2012. Tiyong juga mendapat amanah jabatan setelah terpilih sebagai anggota DPR Aceh. Tapi perjalanan politik Tiyong di Partai Aceh tidak awet setelah diterpa gejolak internal.

Setelah lepas dari Partai Aceh, Tiyong kemudian membidani lahirnya Partai Nasional Aceh bersama Irwandi Yusuf, Muharram Idris, Ligadinsyah, Amni bin Ahmad Marzuki, Tarmizi, Lukman Age, Thamren Ananda dan lainnya. Di Pemilu 2014, Tiyong kembali maju sebagai anggota DPR Aceh dan terpilih kembali untuk periode keduanya melalui Partai Nasional Aceh (PNA) yang dipimpin oleh Irwandi Yusuf.

Pada Pemilu pertamanya tahun 2014, partai ini hanya mampu mengirim tiga kadernya ke DPRA yaitu Darwati A Gani (istri Irwandi Yusuf), Samsul Bahri Ben Amiren, dan Dedi Safrizal. Partai Nasional Aceh pada tahun 2017 kemudian mengubah nama partai menjadi Partai Nanggroe Aceh lantaran pada Pemilu 2014 tidak berhasil melewati ambang batas Pemilu.

Dalam struktur kepengurusan, Irwandi Yusuf selaku ketua umum menempatkan Tiyong sebagai ketua harian PNA. Pada Pemilu 2019, PNA mencatat rekor dengan mengirim enam kader ke DPRA. Namun dalam perjalanan, badai konflik menerpa partai ini hingga digelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Bireuen pada 2019. Saat itu, peserta KLB menyerahkan mandat ketua umum ke Tiyong.

Setelah makan asam garam perpolitikan lokal di Aceh, memasuki Pemilu 2024, Tiyong mencoba langkah jitu dengan mengambil kesempatan di kancah politik nasional. Bagi Tiyong dengan keberadaannya di tingkat nasional, ia bakal memberi lebih banyak manfaat bagi Aceh, daerah yang sangat dicintainya.

Tiyong belajar, bahwa berada di partai lokal Aceh tak akan membawa dampak yang signifikan bagi Aceh. Ia perlu menarik segala kesempatan pembangunan yang berada di tingkat nasional untuk Aceh. Apa yang telah Tiyong lakukan semata karena ia mencintai Aceh dan menginginkan kemajuan bagi tanah Serambi Mekkah.

Partai Golkar kemudian dipilih Tiyong sebagai tempatnya berkiprah. Bergabungnya Tiyong ke Partai Golkar tak terlepas dari rasa percaya dan kesamaan visi yang dimiliki Partai Golkar dan dirinya. Ia yakin melalui Partai Golkar, kesejahteraan bagi masyarakat Aceh akan ia wujudkan.

Di Pemilu 2024, Tiyong maju mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI Partai Golkar. Ia bertarung di Dapil Aceh II yang meliputi Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Bireuen, Kota Langsa, dan Kota Lhokseumawe.

Di Dapil tempatnya bertarung, Partai Golkar sudah memiliki petahana yakni Ilham Pangestu. Namun langkah Tiyong tak terhenti. Ia justru optimis dapat melenggang dengan menambah satu kursi DPR RI bagi Partai Golkar. Naluri politiknya berkata demikian. Benar saja, setelah Pemilu 2024 usai digelar, Tiyong bersama Ilham Pangestu melenggang ke Senayan. Dari Dapil Aceh II, Tiyong berhasil meraup 86.109 suara dan berhak mendapat kursi kedua Partai Golkar.

Samsul Bahri Tiyong adalah gambaran bagaimana patriotisme dan rasa cinta terhadap daerah adalah ruh penggerak para legislator. Mereka berangkat dari daerah demi satu tujuan, membuat daerah pemilihannya tersentuh oleh pembangunan berskala nasional. Kini kita bisa saksikan bagaimana kiprah Tiyong di parlemen DPR RI nanti. Apakah kehadirannya bisa membawa manfaat bagi rakyat Aceh? Tentu saja, jawabannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *