Menperin Agus Gumiwang: Industri Pengolahan Nonmigas Tumbuh 5,32 Persen, Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Berita Golkar – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan kinerja industri pengolahan nonmigas (IPNM) pada triwulan II-2026 mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, didorong implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN) yang difokuskan pada penguatan struktur industri dan hilirisasi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen pada periode yang sama.

“Capaian ini menunjukkan arah kebijakan industrialisasi nasional berada di jalur yang tepat. Arahan Presiden Prabowo Subianto menjadikan sektor industri sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi kami terjemahkan melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN),” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (5/8/2026), dikutip dari RM.id.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 18,50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sekaligus menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi mencapai 0,90 persen.

Menurut Agus, kinerja manufaktur tidak hanya tercermin dari pertumbuhan output, tetapi juga diperkuat sejumlah indikator aktivitas industri yang masih berada pada fase ekspansi.

Ia menyebut Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) tercatat sebesar 52,31, sementara Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2 dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencapai 53,10.

“Konsistensi indikator-indikator tersebut memberikan sinyal bahwa dunia industri nasional tetap optimistis terhadap prospek usahanya. Artinya, aktivitas produksi, investasi, maupun permintaan terhadap produk manufaktur masih terus bergerak positif,” ujarnya.

Agus menjelaskan pertumbuhan industri pengolahan pada triwulan II-2026 ditopang sejumlah subsektor strategis, antara lain industri makanan dan minuman yang tumbuh 6,51 persen, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik sebesar 8,04 persen, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang meningkat 4,99 persen.

Di sisi lain, Menperin menilai meningkatnya impor barang konsumsi sebesar 27,15 persen secara tahunan mencerminkan konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh, namun juga menjadi sinyal perlunya memperkuat industri penyedia bahan baku dan komponen di dalam negeri.

“Pertumbuhan konsumsi masyarakat merupakan sinyal positif bagi dunia industri. Namun, kenaikan impor barang konsumsi harus menjadi momentum memperkuat struktur industri nasional agar semakin banyak kebutuhan pasar domestik dipenuhi produk dan bahan baku dalam negeri,” katanya.

Ia menambahkan Pemerintah akan terus memperkuat daya saing industri manufaktur melalui peningkatan produktivitas, hilirisasi, diversifikasi produk bernilai tambah, serta perluasan pasar ekspor, mengingat komponen net ekspor masih memberikan andil negatif sebesar 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026.

Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor industri pengolahan juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar. Berdasarkan data Mei 2026, sektor tersebut menyerap 13,53 persen dari total penduduk bekerja yang mencapai 148,19 juta orang.

“Kami akan terus mempercepat implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional agar industri nasional semakin kuat, mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, sekaligus meningkatkan kinerja ekspor,” kata Agus. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *