Pamor Wicaksono, Empat Periode Menjaga Partai Golkar di “Lumbung Merah” Brebes

Berita GolkarMempertahankan kekuatan politik di Kabupaten Brebes bukan perkara mudah. Daerah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu basis kuat PDI Perjuangan.

Namun, kondisi tersebut justru menjadi tantangan bagi Pamor Wicaksono SH. Dari daerah yang kerap disebut sebagai “lumbung merah” itu, kader Partai Golkar tersebut membangun sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat hingga empat periode berturut-turut.

Pamor pertama kali terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Brebes pada Pemilu 2009. Kepercayaan itu terus diberikan masyarakat hingga Pemilu 2024, yang mengantarkannya kembali duduk di kursi legislatif untuk periode 2024-2029.

Empat periode di parlemen daerah menjadi penanda panjang perjalanan politik Pamor. Ia membangun karier dari bawah, ketika Golkar sedang menghadapi perubahan besar setelah berakhirnya Orde Baru.

“Saya memang dari rahim Golkar,” ujar Pamor.

Merintis dari Bawah

Kedekatan Pamor dengan Partai Golkar sudah tumbuh sejak lama. Ia mulai aktif dalam politik pada Pemilu 1999, ketika Golkar dipimpin Akbar Tandjung dan tengah beradaptasi dengan perubahan politik nasional pascareformasi.

Momen tersebut menjadi titik penting bagi Pamor. Ketika dukungan terhadap Golkar mengalami tekanan setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, ia melihat peluang bagi partai tersebut untuk melakukan pembenahan sekaligus memperkuat kaderisasi.

Dari seorang simpatisan, Pamor kemudian aktif menjadi kader. Ia turun mengajak pelajar dan mahasiswa mengenal serta bergabung dengan Partai Golkar.

Aktivitas itu dijalani dari tingkat bawah sebelum akhirnya mengantarkannya masuk ke struktur DPD Partai Golkar Kabupaten Brebes.

Perjalanan tersebut membentuk pandangannya bahwa kekuatan partai tidak bisa dibangun hanya ketika pemilu tiba. Kader harus hadir dan bekerja jauh sebelum masyarakat memberikan suara.

Menembus “Lumbung Merah”

Pamor memahami betul tantangan yang dihadapi Golkar di Brebes. Karena itu, menjelang Pemilu 2009, ia memilih memperkuat komunikasi langsung dengan masyarakat.

Kampung demi kampung didatangi. Konsolidasi dilakukan dari tingkat akar rumput.

Hasilnya cukup signifikan. Pamor meraih suara terbanyak di daerah pemilihannya dan berhasil masuk DPRD Kabupaten Brebes.

Dapil 1 bahkan menjadi satu-satunya daerah pemilihan yang menyumbangkan dua kursi untuk Golkar. Sementara itu, dapil lainnya masing-masing menghasilkan satu kursi.

“Di dapil saya, satu-satunya dapil yang mendapatkan dua kursi. Alhamdulillah, dari Pemilu 2009 sampai Pemilu 2019 saya dipercaya menjabat selama tiga periode dan Golkar tetap mendapatkan dua kursi di Dapil 1,” katanya.

Kepercayaan itu kemudian berlanjut pada Pemilu 2024.

Bagi Pamor, mempertahankan kursi justru lebih sulit daripada merebutnya. Setelah memperoleh mandat dari masyarakat, seorang anggota dewan harus terus menjaga komunikasi dan membuktikan bahwa kepercayaan tersebut layak dipertahankan.

Karena itu, konsolidasi politik menurutnya tidak boleh berhenti setelah pemilu selesai.

Pamor mendorong Golkar memiliki target politik yang tinggi dalam setiap kontestasi. Jika partai lain berani menargetkan tiga hingga lima kursi, Golkar juga harus memiliki keberanian yang sama.

“Kalau partai lain menargetkan tiga sampai lima kursi, Golkar juga harus punya target yang sama. Kita harus punya target setinggi-tingginya dan berjuang agar itu bisa terealisasi,” ujarnya.

Target tersebut, kata dia, harus diikuti kerja politik hingga tingkat akar rumput.

Petani, nelayan, masyarakat desa, serta berbagai kelompok sosial lainnya harus terus dirangkul dan diajak berkomunikasi.

“Kita masuk langsung ke akar rumput, petaninya, nelayannya, dan semua komponen masyarakat kita rangkul. Dengan konsolidasi yang tidak pernah berhenti, Golkar sangat mungkin berjaya kembali,” tegasnya.

Dari “Sanja Jagong Layat” ke Media Sosial

Bagi Pamor, menjaga hubungan dengan masyarakat membutuhkan komunikasi yang dilakukan secara konsisten. Ia masih mengandalkan pertemuan tatap muka dengan warga. Pendekatan tersebut telah dikenalnya sejak kecil melalui tradisi “Sanja Jagong Layat”, yang ia adaptasi dari H Ismail, mantan Gubernur Jawa Tengah.

Tradisi bertemu dan berbincang langsung dengan masyarakat itu kini dipadukan dengan perkembangan teknologi. Pamor memanfaatkan Facebook, TikTok, dan Instagram untuk berkomunikasi dengan konstituen. Ia melihat setiap platform memiliki karakter pengguna yang berbeda.

Facebook, misalnya, masih cukup kuat digunakan masyarakat di wilayah pedesaan. Sementara TikTok dinilai lebih efektif untuk menjangkau kelompok masyarakat yang lebih muda. Media sosial juga dimanfaatkannya untuk menyerap aspirasi dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

“Zaman bergerak. Mau tidak mau kita harus terus update terhadap perkembangan. Kita lihat mana konten yang mengedukasi dan mana yang harus kita sampaikan,” katanya.

Bagi Pamor, teknologi hanya alat. Inti dari komunikasi politik tetap berada pada kemauan untuk mendengar dan hadir di tengah masyarakat.

Mendengar Aspirasi dari Pesisir hingga Pedalaman

Sebagai wakil rakyat dari Dapil 1, Pamor berhadapan dengan masyarakat dengan karakter dan kebutuhan yang beragam. Brebes memiliki kawasan pesisir, pertanian, perkotaan hingga pedesaan. Persoalan yang disampaikan warga pun berbeda-beda.

Mulai dari infrastruktur dan jalan rusak, persoalan pertanian, harga komoditas, hingga kekhawatiran terhadap masuknya produk pertanian impor.

Menurut Pamor, luasnya wilayah Brebes membuat seorang anggota DPRD harus memahami persoalan masyarakat secara langsung. Aspirasi yang diterima kemudian harus dikawal melalui fungsi legislasi, penganggaran, maupun pengawasan.

Ia meyakini ukuran keberhasilan seorang wakil rakyat terletak pada sejauh mana persoalan masyarakat dapat ditindaklanjuti. Salah satu pengalaman yang masih diingatnya terjadi ketika muncul gejolak di Desa Karangsembung, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes.

Saat Forum Masyarakat Peduli Desa Karangsembung menggelar aksi penyampaian aspirasi, Pamor sedang berada di Bali. Meski demikian, ia tetap berupaya menjaga komunikasi dengan sejumlah pihak melalui sambungan telepon untuk memastikan persoalan tidak berkembang menjadi konflik.

Langkah tersebut turut membantu menjaga situasi tetap kondusif sehingga aksi masyarakat berlangsung damai.

Pamor juga mengingatkan kepala desa agar menjadi teladan ketika menghadapi persoalan warga.

Perbedaan pendapat, menurutnya, merupakan bagian dari dinamika masyarakat. Namun, persoalan harus diselesaikan melalui komunikasi dan dialog agar tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

“Terima Kasih” Warga Jadi Energi

Empat periode berada di DPRD Kabupaten Brebes membuat Pamor mulai melihat peluang untuk memperluas pengabdiannya. Namun, ia tidak ingin terburu-buru mengejar jabatan politik.

Menurut Pamor, setiap target politik harus mempertimbangkan kondisi dan peta politik daerah. Politik membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, menyatukan kepentingan, sekaligus mencari titik temu untuk kepentingan masyarakat.

“Prioritasnya sebenarnya bukan pada target strategis, tetapi bagaimana caranya kita bermanfaat dulu bagi masyarakat,” katanya.

Pamor pun memilih tidak terlalu sibuk menghitung apa saja yang telah dikerjakannya selama menjadi anggota DPRD. Penilaian, menurutnya, lebih baik diserahkan kepada masyarakat. Justru ucapan sederhana dari warga menjadi salah satu bentuk penghargaan yang paling berarti baginya.

“Terima kasih Pak Dewan, jalan di desa kami sudah halus. Terima kasih, masjid kami sudah dibangun,” demikian contoh ucapan warga yang menurut Pamor menjadi sumber energi untuk terus bekerja.

“Rasa terima kasih itulah yang menjadi sumber energi yang selalu terbarukan untuk kita terus berkarya,” ujarnya.

Tetap di “Rumah Besar” Golkar

Bagi Pamor, perjalanan politik pada akhirnya bermuara pada satu prinsip: urip iku kudu migunani—hidup harus memberikan manfaat. “Bagaimana caranya kita bisa bermanfaat bagi banyak masyarakat,” ujarnya.

Prinsip tersebut menjadi benang merah perjalanan politik Pamor Wicaksono. Ia tumbuh dari lingkungan yang dekat dengan Golkar, merintis aktivitas politik dari bawah, membangun konsolidasi di tengah daerah yang dikenal sebagai “lumbung merah”, hingga empat kali memperoleh kepercayaan masyarakat untuk duduk di DPRD Kabupaten Brebes.

Pamor memilih tetap berada di Golkar karena melihat partai tersebut sebagai rumah politik sekaligus partai kader yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurutnya, kemampuan beradaptasi harus berjalan beriringan dengan kaderisasi dan komunikasi yang terus dipelihara.

“Partai kader harus terus turun. Kalau tidak turun, bisa kehilangan kader. Karena itu pemupukan kaderisasi penting,” katanya.

Empat periode di DPRD membuat Pamor semakin memahami bahwa jabatan politik merupakan amanah yang harus dikembalikan dalam bentuk kerja nyata.

Kini, tantangannya bertambah. Ia tidak hanya ingin mempertahankan kursi Golkar di Brebes, tetapi juga mendorong partai memperluas pengaruhnya melalui konsolidasi yang tidak pernah berhenti.

Bagi Pamor, rumusnya tetap sederhana: hadir di tengah masyarakat, bekerja untuk menjawab kebutuhan mereka, lalu membiarkan masyarakat yang memberikan penilaian. Di tengah “lumbung merah” Brebes, perjalanan itu masih terus berlanjut.