Berita Golkar – Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, meluncurkan buku antologi bertajuk “Buku Puisi Dan Lagu: Ekspresi Cinta, Karya dan Doa” pada Minggu, 20 April 2026 di Ruang Pustakaloka, Gedung DPR RI, Senayan.
Peluncuran buku ini menjadi penegasan bahwa politik tidak hanya berbicara soal kebijakan, tetapi juga tentang rasa, refleksi, dan kedekatan dengan kehidupan rakyat. Peluncuran tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia, Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, jajaran anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, pegiat literasi, serta komunitas sastra yang turut memberi warna dalam momentum tersebut.
Buku ini juga menjadi cerminan perjalanan batin seorang politisi di tengah padatnya aktivitas parlemen. Di sela tugasnya sebagai pimpinan fraksi, Sarmuji merangkai puisi dan lirik lagu yang menggambarkan berbagai sisi kehidupan, mulai dari kecintaan pada tanah air, realitas kehidupan rakyat kecil, nasib guru bantu, hingga doa-doa kebangsaan yang lahir dari pergulatan pemikiran dan pengalaman langsung di lapangan.
Dalam konteks ideologis Partai Golkar yang menempatkan prinsip karya kekaryaan sebagai fondasi gerak politik, kehadiran buku ini dipahami sebagai wujud konkret dari nilai yang selama ini dijaga organisasi.
Ia menghadirkan dimensi lain dalam praktik politik yang tidak hanya berorientasi pada produk legislasi dan program, tetapi juga menyentuh ruang batin, kebudayaan, dan kesadaran kolektif. Melalui karya ini, politik diposisikan sebagai ruang yang utuh, memadukan rasionalitas kebijakan dengan kedalaman rasa sehingga arah keberpihakan tetap memiliki landasan empati yang kuat.
“Politik Partai Golkar tidak berhenti di undang-undang dan anggaran. Ada dimensi rasa dan kebudayaan yang harus dirawat. Buku Puisi Dan Lagu ini bukti bahwa politisi juga manusia: berpikir, bekerja, dan berdoa lewat kata,” ujar Sarmuji.
Di tengah persepsi publik yang sering melihat politik sebagai ruang yang kaku dan teknokratis, kehadiran buku ini menjadi penanda bahwa empati tetap memiliki tempat dalam proses pengambilan keputusan. Karya sastra dalam konteks ini bukan sekadar ekspresi, tetapi juga medium untuk menjaga sensitivitas sosial seorang pemimpin.
Di tengah ritme politik yang cepat, tekanan pengambilan keputusan, serta tumpukan data dan angka yang mendominasi ruang-ruang kebijakan, Muhammad Sarmuji menempatkan menulis sebagai ruang jeda yang menjaga kejernihan nurani.
Bagi Sarmuji, aktivitas merangkai kata bukan hanya hobi atau pelarian, melainkan mekanisme reflektif untuk merawat kepekaan sosial agar tidak terkikis oleh rutinitas kekuasaan.
Dari perjalanan dinas hingga kunjungan ke daerah pemilihan, setiap perjumpaan dengan realitas masyarakat menjadi bahan bakar emosional yang kemudian diolah menjadi puisi sebuah cara sederhana namun mendalam untuk memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan tetap berpijak pada rasa, bukan semata logika.
“Puisi-puisi ini lahir di mobil dinas, di ruang rapat, di dapil saat saya bertemu guru honorer dan petani. Data melahirkan kebijakan, tapi rasa melahirkan keberpihakan. Buku ini ikhtiar agar saya tidak lupa rasanya jadi rakyat,” kata Sarmuji yang juga bertugas di Komisi XI DPR RI.
Pemilihan Ruang Pustakaloka sebagai lokasi peluncuran memperkuat pesan reflektif yang ingin disampaikan. Di ruang yang identik dengan ketenangan dan pemikiran mendalam, Sarmuji menegaskan bahwa gagasan besar bangsa tidak selalu lahir dari ruang formal yang penuh sorotan, melainkan juga dari ruang sunyi yang memberi kesempatan untuk berpikir lebih jernih.
“Pustaka adalah ruang sunyi tempat bangsa berpikir. Saya ingin puisi politik lahir dari perpustakaan, bukan hanya dari podium,” ujarnya.
Acara kemudian ditutup dengan suasana yang hangat dan sarat makna melalui pembacaan puisi berjudul “Doa dari Senayan”, dilanjutkan dengan musikalisasi puisi, serta penyerahan buku secara simbolis kepada Kepala Perpustakaan DPR RI, dan perwakilan guru honorer sebagai representasi masyarakat yang menjadi inspirasi utama dalam karya tersebut.



