Walikota Kediri Vinanda Prameswati Bangun Konsep Pesantren Sehat: Bersih, Aman dan Bebas Kekerasan

Berita Golkar – Pemerintah Kota Kediri mendorong seluruh pondok pesantren di wilayahnya memiliki Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) aktif sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan agama yang sehat, aman, nyaman, dan ramah bagi santri.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menyampaikan arahan tersebut saat membuka Rapat Koordinasi Tim Pembina Pesantren Sehat di Ruang Joyoboyo, Balai Kota Kediri, Rabu (19/8/2026). Pemkot mencatat terdapat 68 pondok pesantren di Kota Kediri berdasarkan data Kementerian Agama.

Jumlah tersebut menjadi potensi besar untuk membangun Kota Kediri sebagai salah satu pusat pendidikan agama yang unggul di Jawa Timur. Namun, menurut Vinanda, penguatan pesantren tidak cukup hanya melalui aspek pendidikan agama, tetapi juga harus disertai perhatian terhadap kesehatan dan keamanan santri.

“Karena itu, ketika berbicara tentang pesantren, tidak hanya berbicara tentang pendidikan agama. Namun juga berbicara tentang kesehatan, keamanan, lingkungan, perlindungan anak, kualitas sumber daya manusia, dan masa depan Kota Kediri,” kata Vinanda, dikutip dari BeritaJatim.

Target 68 Pesantren Miliki Poskestren

Pemkot Kediri bersama Dinas Kesehatan sebelumnya telah melakukan pembinaan kesehatan pesantren. Pada 2024, tercatat 40 pondok pesantren telah mendapatkan pembinaan dari Dinas Kesehatan.

Dari jumlah tersebut, 35 pesantren telah memiliki Poskestren aktif. Ke depan, Pemkot Kediri ingin cakupan tersebut terus diperluas hingga seluruh pesantren mendapatkan fasilitas dan pendampingan Poskestren.

Vinanda menegaskan Poskestren tidak boleh hanya dipahami sebagai ruangan untuk melakukan pemeriksaan ketika santri sakit. Lebih dari itu, Poskestren harus menjadi pusat edukasi, pencegahan penyakit, serta pembudayaan perilaku hidup sehat di lingkungan pesantren.

Penguatan juga diarahkan pada kader kesehatan santri atau Santri Husada. Para santri tersebut diharapkan menjadi penggerak kebersihan dan kesehatan dari dalam lingkungan pesantren.

Dengan pendekatan tersebut, kesehatan diharapkan tidak lagi sekadar menjadi program pemerintah, tetapi berkembang menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan pesantren.

“Kita ingin Kota Kediri tidak hanya dikenal sebagai kota dengan banyak pondok pesantren. Tetapi juga dikenal sebagai pusat pendidikan agama yang sehat,” papar Mbak Wali.

Pesantren Sehat Tak Sekadar Bersih

Vinanda menjelaskan lingkungan pesantren memiliki karakter berbeda dibandingkan lingkungan pendidikan lainnya. Para santri tinggal dan beraktivitas secara komunal sehingga kebersamaan menjadi salah satu kekuatan utama.

Namun, pola kehidupan yang sangat komunal juga memiliki risiko kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik. Persoalan tersebut antara lain berkaitan dengan kebersihan kamar dan kamar mandi, pengelolaan sampah, sanitasi, makanan, air bersih, hingga kebiasaan menjaga kebersihan diri.

Selain kesehatan lingkungan, perhatian juga perlu diberikan pada persoalan gizi, anemia pada santriwati, kesehatan reproduksi, aktivitas fisik, serta kesehatan mental.

“Jadi konsep pesantren sehat tidak boleh berhenti pada pesantren yang bersih secara fisik. Pesantren sehat adalah pesantren yang mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan fisik sekaligus kesehatan mental dan sosial para santrinya,” ungkap Vinanda.

Menurutnya, perubahan perilaku menjadi kunci utama. Program pemerintah tidak akan cukup apabila tidak diikuti kesadaran individu dan seluruh warga pesantren.

Karena itu, Vinanda mengajak agar menjaga kesehatan ditempatkan sebagai bagian dari akhlak seorang santri. Edukasi mengenai anemia dan kesehatan reproduksi juga perlu diperkuat, terutama bagi santriwati.

“Jadi mari kita bangun budaya pesantren yang sehat dengan santri yang alim, sehat, cerdas, bugar, berakhlak dan juga peduli terhadap kebersihan,” tegasnya.

Kesehatan Mental dan Keamanan Jadi Perhatian

Dalam membangun pesantren sehat, Vinanda juga menyoroti aspek kesehatan mental dan keamanan santri. Ia menegaskan praktik bullying, perundungan, kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan seksual, maupun bentuk intimidasi lainnya tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari proses pendidikan.

Menurutnya, senioritas yang mungkin muncul dalam kehidupan pesantren harus tetap ditempatkan dalam koridor pendidikan yang sehat.

“Mendidik tidak harus dengan merendahkan. Mendisiplinkan tidak harus dengan kekerasan. Menegur tidak harus dengan mempermalukan.”

Santri, lanjut Vinanda, harus memiliki rasa aman untuk bertanya, menyampaikan persoalan, dan mencari pertolongan ketika menghadapi sesuatu yang tidak baik.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan pesantren sebagai ruang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang santri. Pendidikan agama dan pembentukan karakter diharapkan berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap kondisi fisik dan psikologis peserta didik.

Kolaborasi Pemerintah, Pesantren dan Santri

Vinanda menegaskan pembangunan pesantren sehat tidak dapat dikerjakan oleh satu pihak. Pesantren menjadi pusat pembentukan budaya, sementara pemerintah memberikan dukungan kebijakan, fasilitas, dan layanan.

Kementerian Agama serta organisasi keagamaan memiliki peran dalam memperkuat pembinaan dan pendidikan. Sementara itu, puskesmas dan tenaga kesehatan memberikan pendampingan secara berkelanjutan.

Yang tidak kalah penting adalah keterlibatan santri sebagai agen perubahan. Mereka diharapkan menjadi bagian aktif dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat di lingkungan pesantren.

Dengan kolaborasi tersebut, pesantren diharapkan tidak hanya menghasilkan generasi yang kuat secara spiritual, tetapi juga sehat secara fisik, matang secara mental, kuat secara karakter, serta peduli terhadap lingkungan dan sesama.

“Pesantren sehat bukan sekadar program kesehatan. Ini adalah investasi untuk masa depan. Karena para santri hari ini adalah calon pemimpin umat, pemimpin masyarakat dan bagian dari generasi penerus bangsa di masa depan.”

Vinanda mengajak seluruh pihak menjadikan agenda kesehatan sebagai bagian integral dari kehidupan pesantren.

“Maka mari kita bangun pesantren yang bukan hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga kuat dalam kesehatan. Bukan hanya disiplin, tetapi juga ramah. Bukan hanya bersih secara lingkungan, tetapi juga sehat secara mental.”

“Pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi menjadi ruang yang aman bagi setiap santri untuk tumbuh dan berkembang. Tujuan besarnya menjadikan Kota Kediri sebagai pusat pendidikan agama yang sehat, aman, nyaman dan berkemajuan,” pungkasnya.

Rapat Koordinasi Tim Pembina Pesantren Sehat tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr. Hamida, Kepala Bagian Kesra Yono Heryadi, narasumber, perwakilan pengasuh pondok pesantren, kepala puskesmas, Lembaga Kesehatan NU, Ketua Promosi Kesehatan Rumah Sakit, serta sejumlah tamu undangan.

Melalui penguatan Poskestren dan keterlibatan seluruh unsur, Pemkot Kediri menargetkan kesehatan dapat menjadi bagian dari budaya kehidupan pesantren. Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan santri memperoleh lingkungan pendidikan yang tidak hanya kuat dalam pembentukan ilmu dan karakter, tetapi juga mendukung kesehatan, keamanan, dan tumbuh kembang mereka secara menyeluruh. []