Airlangga Hartarto Tegaskan Bursa Mineral Tak Akan Jadi Beban Pengusaha

Berita GolkarMenteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah terus mematangkan rencana pembentukan bursa mineral dan komoditas strategis (BMKS) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Danantara. Pemerintah memastikan kebijakan bursa mineral tidak akan menjadi beban bagi pengusaha.

“Ya namanya bursa kan supply and demand dia basis kerjanya. Dan sekarang kan menyempurnakan yang sudah ada,” ujar Airlangga ditemui di Ayana Hotel, Jakarta Pusat pada Rabu (19/8/2026).

Airlangga menekankan bahwa mekanisme bursa pada dasarnya mempertemukan permintaan dan penawaran. “Di mana-mana kan semua ada bursa, yang isinya supply and demand,” katanya, dikutip dari Kompas.

Airlangga mengatakan, pembahasan mengenai komoditas yang nantinya masuk dalam bursa mineral masih berlangsung.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pemerintah membentuk bursa mineral dan komoditas strategis. Bursa tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Bursa akan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pembentukannya menjadi tahap lanjutan kebijakan ekspor satu pintu pemerintah.

Prabowo mengatakan Indonesia selama puluhan tahun menjadi salah satu produsen terbesar berbagai komoditas penting dunia. Komoditas tersebut antara lain kelapa sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, dan karet. Menurut dia, harga sejumlah komoditas tersebut masih mengacu pada bursa di luar negeri.

“Hari ini saya mengumumkan tahap lanjutan kebijakan ekspor satu pintu kita. Kita telah membahas bersama OJK bahwa kita ingin segera mendirikan bursa mineral dan komoditas strategis,” ujar Prabowo saat Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam Penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2027 di DPR RI, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Sedangkan menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi sejumlah komoditas strategis utama Indonesia akan masuk dalam Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang beroperasi mulai 1 Januari 2027.

Komoditas strategis itu meliputi nikel, batu bara, hingga minyak kelapa sawit. Akan tetapi ia menyebut, komoditas strategis secara lengkapnya belum diumumkan.

“Belum, belum diputuskan. yang pasti adalah komoditas-komoditas yang memang itu produksi kita yang paling utama, misalnya CPO, nikel, batu bara,” kata Prasetyo di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026). []