Gde Sumarjaya Linggih Minta PFII Bali Jangan Hanya di Selatan: Utara, Timur dan Barat Harus Kebagian Pertumbuhan

Berita Golkar Anggota Komisi VI DPR RI dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer, mendorong agar rencana pengembangan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) di Bali tidak hanya berorientasi pada masuknya investasi, tetapi juga mampu menciptakan pemerataan pertumbuhan ekonomi antardaerah.

Menurut Demer, peluang Bali menjadi salah satu lokasi PFII harus dimanfaatkan untuk mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar kawasan Bali Selatan. Bali Utara, Bali Timur dan Bali Barat dinilai perlu diarahkan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi baru tersebut.

Peluang itu muncul setelah pemerintah membuka kemungkinan pengembangan PFII di Bali. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Jakarta untuk sementara menjadi lokasi PFII, namun Bali, secara khusus dan kawasan lain di Indonesia juga berpeluang dikembangkan sebagai pusat finansial yang mampu menarik dana besar dari luar negeri.

Hal tersebut disampaikan dalam Penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan dan dokumen pendukungnya pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat 14 Agustus 2026 lalu.

Menanggapi Hal tersebut, Demer mengingatkan agar kehadiran PFII di Bali tidak justru semakin memperkuat konsentrasi ekonomi di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) yang selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi Bali.

“Pertumbuhan di Bali saat ini tidak merata, hanya di selatan saja. Saya minta financial center itu keberadaannya jangan di kawasan Sarbagita, tetapi mengarah ke wilayah Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat agar tercipta pertumbuhan yang berkualitas,” ujar Demer dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026) petang, dikutip dari NusaBali.

Menurutnya, pemerataan lokasi investasi penting agar manfaat ekonomi dari masuknya modal tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Bali Selatan. Pengembangan pusat finansial juga diharapkan mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah.

Demer menilai Bali memiliki modal kuat untuk menarik investasi global karena memiliki reputasi pariwisata yang telah dikenal dunia. Potensi tersebut, kata dia, dapat dikembangkan lebih jauh melalui ekosistem investasi dan finansial yang mampu menarik foreign direct investment (FDI) atau investasi langsung dari luar negeri.

“Bali memiliki daya tarik pariwisata dan reputasi yang sudah dikenal dunia. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan,” kata Sekertaris Fraksi Golkar DPR RI ini.

Masuknya investasi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai investasi, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri hingga memicu investasi baru di berbagai daerah.

Karena itu, Ketua DPD I Golkar Bali itu menilai Bali tidak cukup hanya mengandalkan sektor pariwisata sebagai mesin ekonomi. Keberadaan pusat finansial internasional dapat menjadi salah satu peluang untuk memperluas basis ekonomi Bali sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pintu masuk investasi global Indonesia.

Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan kesiapan infrastruktur. Demer menyoroti kapasitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang dinilai telah mendekati batas maksimal. Pengembangan pusat finansial internasional membutuhkan dukungan konektivitas yang mampu menunjang mobilitas investor, tenaga profesional dan pelaku bisnis dari berbagai negara.

Karena itu, penguatan infrastruktur transportasi, termasuk opsi penambahan bandar udara, dinilai perlu dipertimbangkan sejak awal agar pertumbuhan investasi tidak terkendala kapasitas konektivitas.

Pada akhirnya, Demer berharap rencana PFII di Bali tidak sekadar menghadirkan pusat keuangan baru, tetapi juga menjadi momentum untuk mengubah pola pertumbuhan ekonomi yang selama ini terkonsentrasi di Bali Selatan. Dengan dukungan infrastruktur dan konektivitas yang memadai, Bali Utara, Bali Timur dan Bali Barat diharapkan dapat ikut tumbuh sebagai kawasan ekonomi baru. []