Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45%, Airlangga Hartarto Lapor Pengangguran Terendah Sejak 1994

Berita Golkar – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45%, disertai perbaikan sejumlah indikator sektor riil, mulai dari tingkat pengangguran, aktivitas manufaktur, hingga ketimpangan pendapatan.

Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih, Airlangga menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas rata-rata global yang sebesar 3%. Dia juga mengklaim capaian tersebut termasuk yang tertinggi di antara negara-negara G20 dan ASEAN.

“Ekonomi kita terus tumbuh di atas 5%, yaitu 5,45%, di mana ini lebih tinggi dari global rata-rata yang 3%. Dan kita di sini tertinggi di G20, Pak Presiden, dan juga salah satu yang tertinggi di ASEAN,” ujar Airlangga, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (23/10/2026), dikutip dari ekonomi.bisnis.

Dari sisi ketenagakerjaan, Airlangga melaporkan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,65%. Menurutnya, angka tersebut merupakan yang terendah sejak 1994. Sementara itu, rasio Gini tercatat sebesar 0,368, yang menunjukkan perbaikan tingkat ketimpangan pendapatan.

Di sektor manufaktur, Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia naik menjadi 52,4 atau berada di zona ekspansi, yakni di atas ambang batas 50. Indeks Keyakinan Konsumen juga berada di level optimistis sebesar 118,1.

Airlangga turut melaporkan neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$7,25 miliar. Namun, dalam paparannya, dia tidak merinci periode yang menjadi dasar angka surplus tersebut.

Inflasi dan Stabilitas Fiskal Di tengah pertumbuhan ekonomi, pemerintah tetap mencermati tekanan harga. Airlangga menyebut inflasi tercatat sebesar 3,28%, masih berada dalam kisaran sasaran inflasi 2,5% plus minus 1%. Dia menjelaskan kenaikan inflasi belakangan ini antara lain dipengaruhi harga komoditas pangan, khususnya cabai merah dan cabai keriting.

“Tingkat inflasi juga tetap dijaga di atas 2,5 plus minus 1%, yaitu 3,28%. Memang kemarin agak penaikkan sedikit walaupun dalam range, tetapi ini hasil pertanian, yaitu cabai merah dan cabai keriting,” katanya.

Dari sisi fiskal, Airlangga melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 1,24% terhadap produk domestik bruto (PDB). Menurutnya, posisi tersebut masih sesuai dengan jalur yang ditetapkan pemerintah.

Sementara itu, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%. Imbal hasil surat berharga negara (SBN) bertenor 10 tahun tercatat sebesar 7,21%. Cadangan devisa Indonesia juga dilaporkan mencapai US$146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor.

Menurut Airlangga, posisi tersebut menjadi salah satu penopang ketahanan eksternal Indonesia. Kredit Perbankan Tumbuh 13,65% Di sektor keuangan, Airlangga menyampaikan penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,65%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 10,94%.

Permodalan perbankan dinilai tetap solid dengan rasio sebesar 24,10%. Adapun rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 2,11%.

“Kredit bank tumbuh double digit, 13,65%. Dana dari masyarakat, 10,94. Modal perbankan juga solid, Pak Presiden, 24,10 dan kredit macet 2,11%, relatif kecil,” ujar Airlangga. []