Airlangga Hartarto Pertanyakan Batas Utang Indonesia 60%: Kalau Negara Lain Boleh, Indonesia Kenapa Tidak?

Berita Golkar – Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mempertanyakan alasan sejumlah lembaga pemeringkat kredit yang memberi batasan terhadap rasio utang Indonesia terhadap PDB atau Debt to GDP Ratio yang maksimal hanya 60%. Menurutnya, angka tersebut jauh di bawah rasio yang ditetapkan oleh sejumlah negara.

Airlangga menyebut saat ini defisit Indonesia masih di bawah 3% dari PDB. Sementara itu, rasio utang terhadap PDB mencapai 41%.

Bandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang memiliki defisit menyentuh 5,8% dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 123,3%. India bahkan memiliki defisit anggaran mencapai 4,4% dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 83,1%. Sementara itu, negara tetangga Indonesia, Singapura memiliki surplus anggaran 1,9% dari PDB dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 171,3%

“Kalau yang lain boleh, kok Indonesia enggak boleh? Ada apa sebetulnya? Is it economics? Is it beyond economics?” tanya Airlangga, saat menjadi pembicara di Big Downstream Insights 2026, yang digelar Selasa (6/10/2026), dikutip dari investortrust.

Airlangga menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu menyentuh angka 5,45% pada semester I-2026. Kontributor utama dari pertumbuhan ini yaitu industri pengolahan.

“Dengan industri non-migas tumbuh 5,32% dan kontribusinya adalah 16,83% terhadap PDB nasional,” ujar dia.

Untuk menjawab keraguan sejumlah lembaga pemeringkat kredit, Airlangga mengatakan bahwa Indonesia memerlukan pengembangan industri. Diperlukan dorongan terhadap nilai tambah dari sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun non-terbarukan.

Airlangga mengatakan Indonesia berfokus terhadap pengembangan sumber daya alam terbarukan berbasis hutan dan perkebunan. Salah satunya yaitu pengembangan produk turunan dari kelapa sawit. Saat ini, terdapat sekitar 200 jenis produk turunan kelapa sawit.

Selain kelapa sawit, Indonesia juga mengembangkan industri karet. Dia menyebut Indonesia merupakan salah satu produsen crumb rubber terbesar bersama dengan Tailan.

“Kemudian tentu industri berbasis pertanian yang juga bisa menghasilkan food [makanan], feed [makanan ternak], dan fuel. Nah, ini yang tiga hal yang strategis yang dimiliki oleh Indonesia juga,” kata dia.

Sementara itu, untuk sektor non-terbarukan, Indonesia memfokuskan pengembangan pada komoditas mineral dan batubara.

Sebagai bentuk penguatan industri ke depan, Airlangga menyebut bahwa pemerintah telah membuat peta jalan hilirisasi komoditas. Terdapat 28 komoditas di delapan sektor yang terus diperkuat pemerintah. Selain itu, pemerintah juga terus mendorong beberapa sektor di manufaktur.

“Berbagai manufaktur lain yang didorong adalah tentunya seperti sektor otomotif, sektor tekstil produk tekstil, sektor fast-moving consumer goods, kemudian sektor strategis lain. Nah, itu juga banyak yang perlu kita dorong agar kontribusi industri terhadap GDP itu bisa lebih tinggi dari 20%,” ujar dia. []