Dave Laksono: Senioritas di Militer Penting, tapi Tak Boleh Jadi Alasan Kekerasan

Berita Golkar – Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono mengatakan, senioritas dalam militer memang penting, tetapi bukan berarti senior bisa sewenang-wenang melakukan kekerasan terhadap juniornya. Hal tersebut Dave sampaikan dalam merespons prajurit TNI Angkatan Udara (AU)  bernama Serda Ahmad Muzammil Farisa yang tewas usai menjadi korban penganiayaan oleh empat seniornya.

“Kasus ini patut menjadi perhatian dalam konteks pembinaan prajurit. Senioritas dalam lingkungan militer memiliki fungsi penting untuk membentuk disiplin, kepemimpinan, dan profesionalisme. Namun, senioritas tidak boleh dimaknai sebagai kewenangan untuk melakukan tindakan kekerasan atau perlakuan yang bertentangan dengan ketentuan dan nilai-nilai keprajuritan,” ujar Dave kepada wartawan, Kamis (17/9/2026), dikutip dari Kompas.

Dave menjelaskan, peristiwa ini harus menjadi keprihatinan bersama, mengingat menyangkut seorang prajurit yang sedang menjalankan pengabdiannya kepada negara.

Dia berpandangan, proses pemeriksaan dan penanganan perkara harus dilakukan secara profesional, objektif, transparan, dan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Politikus Partai Golkar ini mengingatkan TNI perlu diberi ruang untuk mengungkap secara utuh apa yang sebenarnya terjadi, termasuk pihak-pihak yang terlibat serta rangkaian peristiwanya. “Karena itu, apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran, hal tersebut perlu ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Dave.

“Penguatan terhadap pola pembinaan, mekanisme pengawasan di lingkungan satuan, serta saluran pengaduan juga penting untuk terus dilakukan agar setiap persoalan dapat ditangani sedini mungkin sebelum berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius,” imbuh dia.

Sementara itu, Dave mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga dan memperkuat profesionalisme prajurit. Ia menegaskan, pendidikan dan epmbinaan harus tetap menjadi ruang untuk membangun disiplin, ketahanan, kepemimpinan, dan solidaritas, dengan tetap menjunjung tinggi ketentuan serta nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan keprajuritan.

TNI AU tewas dianiaya senior

Seorang prajurit TNI Angkatan Udara (AU) tewas usai menjadi korban penganiayaan oleh empat seniornya di Mess Galaksi, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (9/9/2026) pukul 21.05 WIB hingga 23.10 WIB.

“Yang menjadi korban yaitu Serda Ahmad Muzzammil Fahrisa, jabatannya adalah Adminu Urtu Subbagmin Bagum Setdis Diskesau, beliau meninggal dunia, dan (dua korban lain) Serda ZN, serta Serda RP,” kata Danpuspomau Marsda TNI Daan Sulfi, dalam jumpa pers di kantornya, pada Rabu (16/9/2026).

Peristiwa ini bermula pada Selasa (8/9/2026) ketika Serda Mayzard menghubungi Serda RP melalui telepon untuk meminta bantuan. Saat itu, Serda Mayzard meminta Serda RP membantu memasukkan namanya ke dalam daftar penerbangan pesawat TNI AU karena akan menjalankan tugas luar kota.

“Nah, jadi masalahnya di situ. Kemudian, karena ini sedang mungkin sedang berbicara, si juniornya itu tutup saja sama dia. ‘Sudah Mas, sudahlah.’ Sudah, langsung ditutup,” ujar dia.

“Harapannya mungkin senior itu, menutup sopan atau bagaimana. Dia ada ketersinggungan di sana,” tambah dia.

Alhasil, keesokan harinya Serda Mayzard mengumpulkan tiga korban di belakang Mess Galaksi pukul 21.10 WIB. Saat itu, Serda RP diberi hukuman berupa push up dan sit up masing-masing 100 kali oleh Serda Mayzard. Dalam proses tersebut, Serda ZN juga dipukul oleh Serda Mayzard.

Sekitar pukul 21.40 WIB, tiga prajurit lainnya, yakni Serda Jordan Martua, Serda Muh Aldhi D, dan Serda Andri Hiskia, tiba di lokasi dan bergabung dengan Serda Mayzard. Setelah itu, Serda Jordan menyampaikan teguran kepada Serda Ahmad yang merupakan prajurit paling senior di antara tiga korban. Menurut Daan, Serda Jordan meminta Serda Ahmad mengingatkan juniornya sebagai bagian dari tanggung jawab seorang senior.

“(Wejangannya kepada Serda Ahmad) Jadi intinya bahwa ‘kamu harus kasih tahu ke adik-adikmu, itu adalah tanggung jawab adik-adikmu’,” kata dia.

“Namun, ditambahkannya lah oleh dia (Serda Jordan) bahwa ‘ya konsekuensinya kalau misalkan jadi senior ya harus bertanggung jawab. Ini adalah peringatan dari saya agar ingat’, begitu kan. Tapi, peringatan itu malah dilakukan penganiayaan,” sambung dia.

Kemudian, sekitar pukul 23.05 WIB, Serda Jordan memukul Serda Ahmad sebanyak tiga kali dengan tangan kosong yang terkepal. Pukulan tersebut mengenai bagian dada korban.

“Setelah menerima pukulan ketiga, korban langsung jatuh jongkok dan lemas, terjatuh, kemudian berikutnya langsung pingsan,” ujar dia.

Melihat kondisi Serda Ahmad yang tidak sadarkan diri, empat pelaku berusaha menyadarkannya dengan mengoleskan minyak angin atau balsam di bagian hidung serta membasuh wajah dan tubuh korban dengan air.

Namun, korban tetap tidak sadarkan diri. Karena panik, para tersangka kemudian membawa Serda Ahmad menggunakan mobil dinas menuju instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit terdekat.

“Sekitar pukul 23.45 WIB, setelah dilakukan penanganan oleh pihak IGD, korban atas nama Serda Ahmad dinyatakan meninggal dunia,” ungkap dia. []