Gubernur Kepri Ansar Ahmad: Pulau Penyengat Adalah ‘Batang Terendam’ yang Harus Diangkat Bersama

Berita Golkar – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad menyatakan, pihaknya akan terus mengajak seluruh stakeholder untuk bekerja sama dalam mengangkat kearifan lokal yang tersimpan di kawasan Pulau Penyengat.

Ansar mengibaratkan Pulau Penyengat sebagai ‘Batang Terendam’ yang sejatinya harus diangkat ke permukaan bersama-sama karena memiliki peran yang besar bagi RI.

Pernyataan itu disampaikan oleh Ansar usai dirinya menerima penghargaan Cita Loka Fest kategori Anugerah Daerah Terbaik dalam Pengembangan Ekonomi Berbasis Warisan Budaya melalui program revitalisasi Pulau Penyengat.

“Pulau Penyengat itu ibaratkan batang terendam yang harus kita angkat ke permukaan, karena walaupun pulaunya kecil tapi punya peran yang besar dan strategis dalam melahirkan bahasa nasional Indonesia di masa lalu,” kata Ansar saat ditemui di Aryaduta Hotel, Jakarta, Rabu (24/6/2026), dikutip dari Tribunnews.

Adapun peran yang dimaksud oleh Ansar yakni karena sebagian besar buku-buku referensi dan kamus bahasa Indonesia dilahirkannya di Pulau Penyengat.

Tak hanya itu, terdapat juga tiga pahlawan nasional yang lahir dari Pulau Penyengat termasuk di antaranya Raja Haji Fisabilillah yang merupakan Panglima perang yang menenggelamkan kapal Malaka Walfange Belanda di masa penjajahan lampau.

“Sebagian besar buku-buku referensi, kamus bahasa Indonesia, tata bahasa Indonesia modern semua dilahirkan di Pulau Penyengat oleh para penulis di masa lalu,” kata Ansar.

“Di Pulau Penyengat ada dua pahlawan nasional yang dilahirkan di sana, satu Raja Ali Haji, satu Raja Haji Fisabilillah namanya,” sambung dia.

Atas hal tersebut, Ansar menyatakan, pemerintah provinsi Kepulauan Riau akan terus melakukan pengembangan di kawasan Pulau Penyengat usai adanya revitalisasi. Kata dia, ke depan pemerintah provinsi juga akan menggandeng pemerintah pusat hingga pemerintah kota di Kepri.

“Nah kita akan terus menata ini dan kita berbarengan dengan pemerintah Kota Tanjungpinang dan juga pemerintah pusat. Saya terima kasih juga apresiasi buat Kementerian PUPR, Kementerian Bappenas, Kementerian Kebudayaan yang telah berkolaborasi bersama kita,” tandas dia.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meraih penghargaan dalam ajang Cita Loka Fest 2026 atas program revitalisasi Pulau Penyengat.

Penghargaan tersebut diberikan dalam kegiatan Cita Loka Fest yang diselenggarakan Tribun Network bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Rabu (24/06/2026).

Kepri menerima penghargaan kategori Anugerah Daerah Terbaik dalam Pengembangan Ekonomi Berbasis Warisan Budaya melalui program revitalisasi Pulau Penyengat.

Penghargaan diterima langsung oleh Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad. Dalam sambutannya, Ansar menyampaikan apresiasi kepada Tribun Network atas penghargaan yang diberikan kepada Pemerintah Provinsi Kepri.

“Mengawali ucapan ini kami ingin menyampaikan terima kasih penghargaan buat Tribun yang telah memberikan apresiasi,” kata Answar.

“Mudah-mudahan ini menjadi pemantik semangat bagi kami untuk melanjutkan karya-karya terbaik kami dan juga penghargaan ini tentunya akan kami dedikasikan buat seluruh masyarakat Kepri yang kami cintai,” lanjut dia.

Pulau Penyengat merupakan salah satu pulau bersejarah di Kepri yang memiliki peran penting dalam perkembangan kebudayaan Melayu.

Ansar mengatakan Pulau Penyengat pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau Lingga, Pahang, Johor hingga Temasek atau Singapura pada masa lalu.

Ia juga menyoroti peran Pulau Penyengat sebagai pusat perkembangan sastra dan bahasa Melayu yang dipelopori Raja Ali Haji.

“Karena saat itu Belanda memang menginginkan bahasa Belanda menjadi bahasa utama di Pulau Penyengat dan pulau-pulau sekitarnya,” tuturnya.

“Akan tetapi dengan kekuatan pena para penulis sastra di Pulau Penyengat akhirnya Pulau Penyengat berkembang bahasa Melayu di sana,” lanjut Ansar.

Lalu dari Pulau Penyengat lahir berbagai karya penting, seperti kamus bahasa Melayu dan tata bahasa Melayu modern.

“Buku-buku itulah yang dipergunakan dijadikan referensi-referensi dasar 28 Oktober menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional Indonesia,” tandasnya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *