Bambu Naik Kelas! Menperin Agus Gumiwang Bidik Industri Hijau Bernilai Tinggi

Berita Golkar – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat pengembangan industri bambu nasional melalui penguatan sumber daya manusia (SDM) dan pembangunan ekosistem industri bambu yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Langkah ini dilakukan lewat program Akademi Komunitas Bambu (AKB) yang dikembangkan Direktorat Jenderal Industri Agro.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, bambu memiliki potensi besar sebagai komoditas berbasis sumber daya alam terbarukan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi sekaligus ramah lingkungan.

“Pengembangan industri bambu sejalan dengan arah kebijakan industri hijau karena bambu merupakan material berkelanjutan yang memiliki prospek besar untuk industri konstruksi, furnitur, kerajinan, hingga berbagai produk inovatif lainnya,” ujar Agus dalam keterangannya, dikutip dari Industry.

Adapun, program AKB difokuskan pada penguatan industri bambu melalui penyediaan bahan baku siap pakai berkualitas. Para peserta pelatihan dibekali kemampuan teknis mulai dari penanaman, pengawetan, hingga pengolahan bambu untuk mendukung kebutuhan sektor hilir.

Melalui program tersebut, Kemenperin berharap kualitas produk bambu nasional meningkat sehingga mampu bersaing lebih kuat di pasar domestik maupun internasional.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menjelaskan, AKB pertama kali diinisiasi di Bali pada 2025 dan berhasil melahirkan 25 Master Bambu melalui pendekatan training of trainers (ToT).

“Program Akademi Komunitas Bambu dirancang untuk membangun komunitas SDM unggul yang mampu menjadi penggerak pengembangan industri bambu di daerah. Fokus pengembangannya adalah membentuk material center atau pusat logistik bambu penyedia bahan baku siap pakai,” kata Putu.

Pada 2026, pelaksanaan AKB akan difokuskan pada peningkatan kualitas dan volume bahan baku, termasuk teknik pascapanen dan pengawetan bambu untuk memenuhi kebutuhan industri hilir. Komposisi pelatihan terdiri dari 30 persen teori dan 70 persen praktik lapangan.

Peserta program diprioritaskan berasal dari penyedia bahan baku bambu yang berpotensi menjadi pelatih di daerah masing-masing. Selain Bali, program ini juga akan diperluas ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tak hanya itu, Kemenperin juga mulai menggandeng sektor swasta melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR). Salah satu kerja sama yang tengah dijajaki adalah dengan PT KT&G untuk pembangunan fasilitas pendukung AKB berupa asrama pelatihan dan fasilitas pengawetan bambu.

Kabupaten Bangli, Bali, disebut sebagai salah satu wilayah paling potensial untuk pengembangan ekosistem bambu karena memiliki ketersediaan lahan, fasilitas logistik bambu, serta mesin pengolahan yang memadai.

Dalam kunjungan kerja di Bali, jajaran Direktorat Jenderal Industri Agro juga melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Bangli terkait kesiapan pengembangan ekosistem bambu dan dukungan CSR.

Putu menegaskan, penguatan industri bambu nasional membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar dapat berkembang berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap industri bambu nasional dapat berkembang menjadi salah satu sektor unggulan berbasis sumber daya alam terbarukan yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing industri nasional,” pungkasnya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *