Lestarikan Tradisi Yaaqawiyyu, Airlangga Hartarto Perkuat Budaya Sekaligus Ekonomi Masyarakat

Berita GolkarMenteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menegaskan bahwa tradisi Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu bukan hanya warisan budaya yang harus terus dilestarikan, tetapi juga telah menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Ribuan pelaku UMKM, pedagang, hingga penyedia jasa lokal merasakan langsung manfaat ekonomi dari tradisi yang setiap tahun menarik puluhan ribu wisatawan ke Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Hal tersebut disampaikan Airlangga saat menghadiri puncak penyelenggaraan Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu Kiai Ageng Gribig, Jumat (31/7/2026).

Menurut Airlangga, antusiasme masyarakat terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada penyelenggaraan tahun ini, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai 50 ribu orang, menjadikan Yaaqawiyyu sebagai salah satu agenda budaya yang tidak hanya memperkuat identitas bangsa, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Melalui kesempatan tersebut, Airlangga turut mengapresiasi masyarakat Kabupaten Klaten yang hingga kini tetap menjaga dan melestarikan tradisi luhur tersebut.

“Kita berharap bahwa apa yang diajarkan Kiai Ageng Gribig untuk terus dilanjutkan, terutama untuk kita mendorong nilai-nilai perekonomian masyarakat, nilai-nilai kebahagiaan dari masyarakat. Sekali dalam setahun kita guyub rukun untuk menikmati apem,” ujar Airlangga.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya memiliki nilai historis dan spiritual, tetapi juga mampu menjadi instrumen pembangunan ekonomi berbasis masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

UMKM dan Pedagang Kebanjiran Rezeki

Penyelenggaraan Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu turut menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal. Selama rangkaian kegiatan berlangsung, para pelaku UMKM, pedagang kaki lima, penjual oleh-oleh, hingga penyedia jasa transportasi dan parkir mengalami lonjakan pendapatan akibat meningkatnya jumlah wisatawan.

Permintaan terhadap kue apem, yang menjadi ikon utama tradisi tersebut, juga melonjak signifikan. Tahun ini kebutuhan apem diperkirakan mencapai 6 hingga 7 ton, sehingga proses produksinya melibatkan masyarakat dari berbagai desa di sekitar Jatinom bahkan hingga wilayah tetangga.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan dampak ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pembuat apem.

“Seperti pengelola parkir, penyedia transportasi lokal, dan warga yang membuka warung atau angkringan juga mampu mendulang keuntungan dari membludaknya pengunjung dan wisatawan yang datang selama rangkaian acara,” jelas Haryo.

Budaya Harus Tetap Hidup di Era Digital

Airlangga menegaskan, di tengah derasnya arus digitalisasi, bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan akar budaya sebagai identitas nasional. Menurutnya, tradisi tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan harus terus diwariskan kepada generasi muda agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Tradisi Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu sendiri berawal dari dakwah Kiai Ageng Gribig, yang menggunakan pembagian kue apem sebagai media menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Pendekatan budaya tersebut membuat dakwah Islam diterima masyarakat secara damai dan menjadi warisan yang bertahan hingga ratusan tahun.

Tahun ini, penyelenggaraan Grebeg Saparan mengangkat tema “Ingaluhur Rinasa Trusthaning Gusti”, yang mengandung pesan bahwa setinggi apa pun ilmu, kedudukan, dan pencapaian manusia, semuanya harus dilandasi sikap tawakal, rendah hati, serta kepercayaan penuh kepada Allah SWT. Nilai tersebut sejalan dengan keteladanan Kiai Ageng Gribig dalam berdakwah melalui kelembutan dan kebijaksanaan.

Rangkaian Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu telah dimulai sejak 16 Juli 2026 melalui Ambuko Songsong Winadi sebagai penanda masuknya bulan Safar. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Semakan Al-Qur’an Bil Qhoib, Khataman Al-Qur’an, Maulid Al Barzanji, haul Kiai Ageng Gribig, festival seni budaya selama sepekan, hingga Kirab Gunungan Apem menuju Masjid Gedhe Jatinom.

Dihadiri Tokoh Keraton Surakarta

Pelaksanaan Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu tahun ini juga semakin istimewa dengan kehadiran sejumlah tokoh nasional dan tokoh budaya. Salah satunya Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi, yang juga bergelar K.G.P.H. Mangkubumi, putra sulung mendiang Susuhunan Pakubuwana XIII dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Kehadiran KGPH Hangabehi menjadi simbol kuatnya keterkaitan tradisi Yaaqawiyyu dengan sejarah kebudayaan Jawa serta nilai-nilai dakwah Islam yang berkembang melalui pendekatan budaya. Momentum tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga adat dalam menjaga warisan budaya bangsa agar tetap lestari lintas generasi.

Di akhir acara, Airlangga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut agar tetap hidup hingga ratusan tahun mendatang.

“Atas nama keluarga besar dzurriyah Kiai Ageng Gribig, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, para ulama, tokoh masyarakat, relawan, Pemda Klaten, aparat keamanan, dan seluruh warga yang telah menjaga serta melestarikan tradisi luhur ini dari generasi ke generasi. Setuju kalau tradisi ini dipertahankan 400 tahun lagi? Kalau setuju, ayo kita pertahankan 400 tahun lagi,” tegas Ketua Umum DPP Partai Golkar periode 2017-2024 ini.

Selain dihadiri KGPH Hangabehi, acara tersebut juga dihadiri Wakil Ketua BKSAP DPR RI Ravindra Airlangga, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, Tim Ahli Menko Perekonomian Boo Hyung Lee, Tim Asistensi Menko Perekonomian Abdul Kodir Djaelani, Kepala Biro Umum dan SDM Kemenko Perekonomian Hari Nugroho, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Klaten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *